7 Ekor Kambing Warga Tepus Mati Diserang Hewan Misterius
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
Kondisi Sungai Besole yang tercemar limbah tahu seperti terlihat Kamis (28/2/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Kepala Dinas Koperasi dan UMK Gunungkidul, Widadgo, mengatakan hingga saat ini masih banyak kegiatan industri rumah tangga atau UMKM yang membuang limbah secara sembarangan. Secara aturan, hal ini tidak dibenarkan karena bisa memicu pencemaran lingkungan. “Itu tidak boleh karena menyalahi aturan,” katanya, Selasa (12/10/2019).
Menurut dia, ada beberapa industri yang membuang limbah dengan sembarangan seperti produksi tahu dan tempe hingga pembuatan kain batik. Idealnya sisa produksi ini bisa dibuang ke salurang pembuangan limbah khusus sehingga potensi pencemaran lingkungan ditekan. “Tim kami sudah memantau dan ternyata masih ada UMKM yang membuang limbah sembarangan,” katanya.
Widagdo menuturkan untuk permasalahan limbah Dinas Koperasi dan UKM tidak memiliki kewenangan karena ada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang menangani masalah lingkungan. Meski demikian, ia menegaskan komitmennya dalam pengembangan UMKM yang ramah lingkungan.
Dinas Koperasi dan UKM, menurut Widagdo, sering menggelar pelatihan untuk penanganan pascaproduksi yang tidak berpotensi mencemari lingkungan. “Kami datangkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) karena OPD inilah yang mengerti tentang masalah pengelolaan limbah,” katanya.
Sekretaris DLH Gunungkidul, Aris Suryanto, mengatakan secara umum pengolahan limbah industri sudah berjalan dengan baik. Namun ada juga pengusaha yang masih membuang limbah secara sembarangan. “Idealnya ada saluran instalasi pengolahan air limbah [Ipal] khusus untuk industri dan ini sudah banyak dimiliki pengusaha seperti di sentra batik di Kecamatan Gedangsari dan Ngawen,” katanya.
Disinggung mengenai bahaya pencemaran limbah tahu dan batik, Aris mengakui bahwa sisa industri batik lebih berbahaya karena ada kandungan zat kimia. Menurut dia, DLH berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya polusi lingkungan. “Kami terus meyosialisasikan agar pencemaran lingkungan bisa ditekan,” katanya.
Permasalahan pecemaran lingkungan di Gunungkidul bisa dilihat di beberapa aliran sungai. Hasil penelitian yang dilakukan DLH ditemukan beberapa aliran seperti Sungai Besole Utara, Besole Selatan, Kepek, Krapyak, Kluwih, dan Wareng yang tercemar. “Pencemaran terjadi karena kebiasaan buruk dari masyarakat yang membuang sampah atau limbah secara sembarangan sehingga sungai tercemar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
Jadwal Liga Champions 2026/2027 matchday 1, termasuk Real Madrid vs Inter Milan yang live SCTV pada Rabu 9 September pukul 02.00 WIB.
DPR menyetujui penjualan eks KRI Ki Hajar Dewantara senilai Rp370,62 miliar melalui mekanisme lelang.
Pemkot Jogja menguji penutupan sirip Malioboro secara bertahap. Akses warga, difabel, dan lansia menjadi perhatian sebelum kebijakan diterapkan.
Polda DIY mengoperasikan water treatment di Tepus, Gunungkidul, untuk mengolah sumber air keruh menjadi air yang dapat digunakan masyarakat.
Asal usul Anak Krakatau berawal dari letusan dahsyat Krakatau 1883. Simak sejarah Krakatau lama hingga kemunculan Anak Krakatau.