Amputasi Kaki Tak Halangi Faris Mengukir Prestasi

Faris Fadhli seorang tuna daksa bersama orang tuanya seusai wisuda. - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
14 Desember 2019 10:27 WIB Rahmat Jiwandono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJASeorang tuna daksa mampu berprestasi di bidang olahraga angkat beban. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Rahmat Jiwandono

Ratusan mahasiswa berbaju toga duduk rapi dan khidmat di deretan bangku-bangku di Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Yogyakarta, pekan lalu.

Di baris keempat dari belakang duduk seorang wisudawan. Di depan tempat ia duduk terdapat dua buah tongkat yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Tongkat itu menjadi alat untuk membantu berjalan Faris Fadhli, mahasiswa jurusan animasi angkatan 2014 yang juga menjadi salah satu wisudawan STMM MMTC.

Meski Faris Fadhli difabel, tetapi sejumlah prestasi berhasil dia ukir. Bahkan mengalahkan rekan-rekannya sesama mahasiswa yang memiliki fisik lebih sempurna.

Eloknya lagi, Faris Fadhli merupakan atlet yang berprestasi dalam bidang olahraga angkat beban. Sesuatu yang mungkin bagi mahasiswa dengan fisik sempurna akan susah untuk mewujudkannya.

Seusai wisuda, Faris segera melepas pakaian toganya. Posisi duduknya tegak sembari meletakkan dua buah tongkat berwarna abu-abu di sebelah kanannya. Di sebelah kirinya ayah dan ibunya menamani sang buah hati.

Cuaca panas yang masih melanda Jogja, pekan lalu, tak menyurutkan semangatnya untuk membagi kisah perjalanan hidupnya.

Nada bicaranya tetap lantang menjelaskan awal mula kaki kanannya yang diamputasi karena terkena kanker tulang. Sebelum kaki kanannya diamputasi, Faris bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun harapan itu pupus setelah mendengar vonis dokter.

“Sembilan tahun yang lalu saya merasakan nyeri pada bagian kaki kanan saya. Lalu saya periksakan ke rumah sakit dan hasil laboratorium menunjukkan bahwa satu-satunya cara agar kanker ini hilang dengan amputasi,” kata pria alumnus SMAN 11 Jogja, angkatan 2011 itu, Rabu (4/12/2019).

Ia sempat beberapa bulan dirawat di rumah sakit dan pada akhirnya ia menjalani operasi amputasi pada 2011. “Operasi tepat dilakukan beberapa hari sebelum ujian nasional dan saya tetap ikut UN meski akhirnya tidak lulus karena tidak sempat belajar secara maksimal. Soalnya saya harus diopname di rumah sakit,” ujarnya.

Kehilangan satu kakinya bukan sebuah kenyataan yang dengan mudah bisa ia terima. Namun, hal itu tidak lantas membuat dirinya berpangku tangan setelah cita-citanya jadi pemain bola tidak bisa terwujud lagi.

Faris mulai memikirkan olahraga yang bisa ia lakukan dengan kondisinya. Kemudian ia memilih pergi ke pusat kebugaran atau yang dikenal dengan istilah gym. Selain untuk memulihkan kondisi tubuhnya pasca-diamputasi yang mengakibatkan dirinya kehilangan berat badan puluhan kilogram, pergi ke gym untuk menjaga kebugaran.

Ia pegi ke sana untuk mengembalikan otot-otot dan kesehatannya. Dari situlah keinginannya muncul untuk dapat berprestasi di bidang olahraga meski bukan sepak bola seperti apa yang ia impikan.

Dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi atlet angkat beban atau power lifting. Suatu ketika ia latihan angkat beban di Solo dan bertemu dengan seorang pelatih nasional angkat berat yang mengantarkannya dan membukakan jalannya berkenalan dengan banyak orang. Setelah itu Faris diantarkan hingga ke Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (KPNI).

Faris mulai serius menekuni dunia angkatan beban sejak 2015. Hingga kini dia masih aktif dengan mengikuti berbagai kejuaraan. Selama empat tahun terkahir empat medali berhasil ia rebut. Medali pertama yang diperoleh yaitu medali perak di kategori 107 kilogram pada kejuaraan nasional KPNI pada 2017 di Bandung. Masih di tahun yang sama ia ikut pekan paralimpik daerah di Jogja dan berhasil menyabet emas pada kategori beban 97 kilogram. Medali emas keduanya ia raih dalam pekan olahraga paralimpik daerah 2019 DIY, dan medali perunggu kejuaraan nasional (kejurnas) KPNI 2019 di Solo. “Medali-medali yang sudah saya dapatkan sebagai bentuk usaha saya agar mereka berdua [orang tua] bahagia,” katanya.

Berangkat ke Amerika

Dengan prestasinya itu, Faris pernah mewakili Indonesia ke Amerika Serikat pada 2018. Di Negara Paman Sam itu, Faris mengikuti summer camp dengan perwakilan dari negara Kyrgyzstan dan Thailand.

Awal mula Faris bisa ke negara yang dipimpin Donald Trump setelah mendaftar ke kedutaan besar Indonesia. Kemudian pihak Kedutaan menyarankan mengikuti program Inclusion Summer Camp tepatnya di negara bagian Chicago. Ia tinggal di sana selama dua minggu untuk merasakan bagaimana menjadi seorang disabilitas di Chicago.

“Di sana saya sebagai disabilitas benar-benar dimudahkan mulai dari hal-hal kecil. Disabilitas di sana aksesnya sangat mudah untuk bepergian ke satu tempat ke tempat lainnya,” jelasnya.

Ia menyebut untuk pergi ke fasilitas umum seperti mini market tidak menemui hambatan sama sekali. Tersedianya jalur bagi orang-orang disabilitas yang menggunakan kursi roda hingga mengunjungi gedung-gedung pencakar langit dapat dilakukan dengan mudah.

“Bahkan saya bisa naik ke lantai 100-an untuk melihat pemandangan Kota Chicago dengan kursi roda,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mencoba olahraga bagi disabilitas yang belum dikembangkan di Indonesia seperti softball american football, dan rock climbing.

“Teman-teman tuna daksa diminta untuk memanjat tebing dan kami bisa lakukan itu,” kata putra pasangan dari Rita Nursiam dan Anton Edy Wibowo itu.

Namun, kondisi 180 derajat dialami Faris begitu menginjkkan kaki kembali di Tanah Air. Hambatan bagi seorang disabilitas sudah dimulai sejak menginjakkan kakinya ke luar rumah. “Aksesbilitas bagi disabilitas belum kami rasakan di sini,” kata dia.

Bangga

Ayah dan ibun Faris tak kuasa menahan air mata yang mengucur dari kedua matanya setelah mendengar pengakuan bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh Faris hanya untuk membahagiakan mereka. “Saya justru baru mendengar kali ini kalau yang ia lakukan untuk membahagiakan kami,” kata mereka sembari mengusap air matanya dengan selembar tisu.

Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendoakan supaya apa yang dicita-citakan agar terus bisa berprestasi di olahraga angkat berat terwujud. Ketika berlatih pun, anaknya tidak pernah mengenal lelah. “Kerja kerasnya terbayarkan dan kami merasa bangga,” ujarnya.