Program Bayi Tabung Jadi Magnet Wisata Kesehatan DIY

Proses peletakan batu pertama pembangunan Gedung Morula IVF di RS JIH Jogja, Sabtu (14/12/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamied Razak
15 Desember 2019 17:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Penanganan fertilitas melalui program bayi tabung dilirik jadi program magnet penerapan medical tourism atau wisata kesehatan di DIY.

Peluang itu dilirik Rumah Sakit JIH menggandeng klinik fertilitas Morula IVF (PT Morula Indonesia) membangun klinik untuk program bayi tabung. Klinik inilah yang nantinya menjadi tempat pengembangan konsep fertility tourism atau wisata fertilitas. 

Direktur Scientific PT Morula Indonesia Profesor Arief Boediono mengatakan selama ini pasien fertilitas banyak yang berobat ke Malaysia dan Singapura. Padahal, layanan yang sama di dalam negeri kualitasnya lebih bagus dari luar negeri.

Menerapkan teknologi canggih untuk program bayi tabung, menurut dia, JIH dan Morula IVF ingin membawa pasangan yang berobat ke luar negeri untuk kembali berobat ke Indonesia, terutama di Jogja.

"Kami ingin menggali potensi wisata di DIY. Ini juga menjadi dasar pengembangan konsep medical tourism di Jogja. Sebab peserta program bayi tabung memiliki tingkat stres yang tinggi dibandingkan pasien lainnya," katanya di sela peletakan batu pertama pembangunan Gedung Morula IVF di RS JIH Jogja, Sabtu (14/12/2019).

Oleh karenanya, dengan konsep medical tourism khususnya fertility tourism pasien bisa bersantai atau sekadar menikmati wisata di Jogja. Apalagi selama ini Jogja terkenal sebagai kota wisata dengan beragam keunikannya. "Jadi mereka ke Jogja seolah-olah hanya untuk rileks saja, jalan-jalan tetapi sebenarnya menjalani program in vitro fertilisation [IVF]," katanya.

Dengan begitu, pasien menjadi tidak terbebani. Semakin pasien rileks dan semakin nyaman mereka menjalani terapi, maka tingkat keberhasilan program bayi tabung bisa semakin tinggi. "Kami bersama RS JIH akan menggandeng agen perjalanan dengan beragam paket sesuai keinginan pasien," katanya.

Morula, menurut Arief merupakan penyedia layanan bayi tabung swasta di Indonesia. Dari 36 layanan program bayi tabung 10 di antaranya atau sekitar 40% ditangani oleh Morula.

Selama 21 tahun, ada 9.000 pasangan yang ditangani Morula dengan jumlah bayi yang dilahirkan sebanyak 4.300 anak. "Artinya, program bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan sebesar 40-50 persen," ungkap Arief.

Pertengahan 2020

Presiden Direktur RS JIH Mulyo Hartana mengatakan pembangunan Gedung Morula dimulai tahun depan di lahan seluas 800 meter persegi. Diharapkan gedung dua lantai tersebut bisa dimanfaatkan pada pertengahan 2020.

"RS JIH satu dari tiga rumah sakit yang memiliki layanan program bayi tabung di Jogja. Gedung baru ini bisa memberi layanan dengan maksimal kepada pasien," katanya.

Program bayi tabung juga akan hadir di Solo dan Purwokerto agar lebih menjangkau kepada masyarakat. Hal itu bertujuan untuk mencegah masyarakat berobat ke luar negeri untuk mendukung medical tourism di Jogja.

"Jadi tidak perlu pergi ke luar negeri. Cukup di Jogja. Fasilitas siap, teknologi canggih dan suasana di Jogja yang nyaman akan memberikan ketenangan bagi pasangan yang menjalani program ini," katanya.