Hujan Mulai Mengguyur, Petani Kopi Suroloyo Ketar-Ketir

Salah satu petani kopi Suroloyo, Windarno, menunjukkan buah kopi yang siap petik di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Minggu (14/4/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
16 Desember 2019 13:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Hujan yang mulai mengguyur Kabupaten Kulonprogo sejak beberapa pekan terakhir membikin petani Kopi Suroloyo ketar-ketir. Pasalnya turunnya hujan jika berlangsung secara terus menerus dapat mengganggu proses produksi, bahkan menurunkan kuantitas serta kualitas tanaman kopi asli Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh tersebut.

Kekhawatiran itu dirasakan Windarno, salah satu petani kopi dari Kelompok Tani Sedyo Rukun, dusun setempat. Dia menuturkan saat ini dari luasan 20 Hektare kebun kopi di Dusun Keceme, sebagian sudah mulai berbuah.

Sebagian lagi baru berupa bunga yang tengah mekar. Untuk yang berbuah, ditargetkan mulai dipanen pada Februari 2020. Sementara untuk yang berbunga, bakal dipanen pada Juni 2020.

Dalam sekali panen, kelompok ini bisa memproduksi paling sedikit 6 ton biji kopi. Itu berlaku saat musim kemarau. Berhubung bulan ini terjadi peralihan musim dari kemarau ke penghujan, hasil panenan utamanya pada awal tahun depan diprediksi tidak akan sebesar itu.

"Kemungkinan panenan besok [Februari-Maret] malah banyak gagalnya, karena cuacanya pas penghujan, tapi kalau yang bulan sekarang lagi berbunga mungkin Mei-Juni kalau memang pas kemarau bisa bagus," kata Windarno kepada Harianjogja.com, Minggu (15/12/2019).

Di musim hujan, pertumbuhan buah kopi atau umum disebut ceri kopi sejatinya berkembang dengan baik. Namun, akan buruk bila di musim tersebut tepat saat ceri kopi telah siap panen, hujan mengguyur secara terus menerus. Sebab, ceri kopi akan lebih mudah berguguran.

Dampak lain, jika ceri kopi tetap di dahannya, maka buah akan mengalami retakkan. Ini bisa terjadi karena tanaman kopi terlalu banyak menyerap air. Sel-sel pada kulit ceri kopi dapat memuai secara berlebihan sehingga timbul rongga.

Retakkan itu akan mengurangi kualitas kopi yang dihasilkan. Lendiran buah kopi akan merembes keluar dari daging buah yang terbuka. Akibatnya memengaruhi faktor sweetness dari kopi yang akan diproses nantinya. Selain itu, berat buah kopi juga akan menurun.

"Kopi yang gagal panen tetap bisa diolah tapi kualitasnya memburuk. Harga juga anjlok. Misal kopi robusta 40.000 per Kg nanti hanya dihargai Rp15.000-20.000 per Kg, robusta yang harganya Rp80.000 per Kg bisa turun jadi Rp40.000 per Kg," terang Windarno.

Musim hujan tidak hanya memberi dampak negatif di saat panen kopi, tapi juga ketika tanaman kopi berbunga. Bunga kopi bisa beguguran yang otomatis tidak dapat menghasilkan buah. "Dulu kami pernah benar-benar gagal panen gara-gara cuaca seperti ini," ujar Windarno.

Kelompok Tani Sedyo Rukun, bukan tanpa upaya mengantisipasi gagalnya panen Kopi Suroloyo. Dulu kata Windarno, kelompoknya pernah mencoba metode perawatan kopi saat musim hujan dengan doom plastik.

Lapisan plastik berfungsi menghadang air hujan yang mengguyur tanaman kopi. Namun cara itu kurang berhasil karena air tetap merembes. "Kami pernah coba pakai doom, tapi karena kawasan sini lembab, air hujan tetap merembes dan menetesi kopi," ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo, Aris Nugroho mengatakan akan melakukan cek kondisi perkebunan kopi di Keceme untuk kemudian mencari solusi masalah itu. "Terlebih dahulu akan kami cek kondisi lapangan, nanti rekan-rekan dari bidang perkebunan segera ke sana," ujarnya.

Selain di Kecamatan Samigaluh, komoditas kopi Kulonprogo juga bisa ditemukan di Kecamatan Girimulyo, Kalibawang dan Temon. Total luas tanam kopi di Kulonprogo 1.452,84 hektare. Dari luasan tersebut mampu menghasilkan 435 ton biji kopi pada 2018 lalu.