Hujan Deras Sebabkan Enam Lokasi Longsor, Satu Dinding Jebol

Pembersihan tanah longsor di rumah Susanto yang jebol akibat longsoran saat hujan deras Senin (16/12/2019) sore kemarin. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
17 Desember 2019 19:27 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Hujan deras yang mengguyur Kulonprogo pada Desember ini sudah menyebabkan bencana longsor di enam titik. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, masyarakat terus diminta waspada dan mengenali tanda-tanda alam.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Edi Wibowo, menuturkan bulan ini sudah ada empat kejadian longsor, yakni di Desa Hargowilis, Kokap; Desa Kaliagung, Sentolo; dan dua titik di Desa Ngargosari, Samigaluh.

“Yang di Kaliagung menimpa salah satu sisi halaman sekolah di SMPN 3 Sentolo, sementara yang di Ngargosari ada dua titik, yaitu menimpa rumah Pak Susanto dan menutup jalan di Dusun Nguntuk-untuk,” kata Edi, Selasa (17/12/2019).

Menurut dia, hujan deras pada Senin (16/12/2019) sore di Kulonprogo menyebabkan rumah Susanto di Ngargosari itu jebol salah satu dindingnya. Selain itu, tanah longsor yang menutup jalan hingga berita ini diturunkan belum dibersihkan karena tanahnya masih labil.

Susanto, 37, warga Dusun Pucung, Desa Ngargosari yang rumahnya terkena longsoran menuturkan sejak siang menjelang sore hujan turun sangat lebat. “Lalu terdengar suara kayak pohon tumbang, setelah dilihat ternyata dinding kamar jebol kena tebing longsor, kami sekeluarga langsung lari keluar,” kata Susanto.

Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp2 juta. BPBD Kulonprogo dan Kecamatan Samigaluh sudah memberikan bantuan berupa logistik dan sejumlah uang untuk korban longsor.

Sementara itu, Camat Samigaluh, Triyanto Raharjo menyebutkan selain di dua titik itu, ada dua titik longsoran lain di Desa Ngargosari, yaitu di Dusun Tritis yang mengancam salah satu rumah dan menutup saluran air serta di Dusun Canden yang menutup akses jalan. “Yang di Canden sudah bisa dilewati,” kata Triyanto.

Ia menuturkan, jika terjadi longsor susulan, salah satu rumah di Dusun Tritis bisa terancam tertimpa tanah longsor. Triyanto mengimbau warga untuk mempersiapkan diri dan waspada di musim penghujan ini.

“Agar warga membersihkan saluran-saluran air. Air yang mengalir tidak teratur akan mendorong terjadinya longsor,” kata Triyanto.

Ia juga meminta sukarelawan dan tagana untuk menyiapkan logistik dan peralatan kedaruratan bencana.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho meminta warga Kulonprogo senantiasa mengutamakan kearifan lokal saat merespons ancaman bencana. “EWS [early warning system] terbaik adalah kewaspadaan kita terhadap tanda-tanda alam, mulai dari hujan, munculnya retakan tanah, pohon miring, hingga intensitas hujan deras yang lebih dari dua jam,” kata Hepy.

BPBD saat ini sudah memasang sebanyak 91 EWS di Kulonprogo dan semuanya berfungsi baik. Meski begitu, ia tak ingin masyarakat bergantung pada teknologi. “Jangan begitu percaya teknologi. Kewaspadaan dan pemahaman bencana perlu diketahui semua orang. Sebab, tidak ada yang tahu pasti terkait longsor meskipun sudah ada EWS,” ujarnya.