Begini Cara Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram Jaga Eksistensi Tari Tradisi

Salah satu tarian yang ditampilkan dalam Gelar Atraksi Tari Wisata di Rumah Budaya Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram Yogyakarta, Kamis (19/12/2019) malam. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
20 Desember 2019 19:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Guna terus menunjukkan eksistensi tari tradisional Jawa baik klasik maupun kreasi baru, Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram mementaskan Gelar Atraksi Tari Wisata di Rumah Budaya Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram Yogyakarta, Kamis (19/12/2019) malam.

Pentas yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB itu dibuka dengan tari Mangastuti Pujo yang dimainkan oleh dua penari, Sabrina Nurul Pritisari dan Dewati Rahmayani. Tarian itu berkisah tentang kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta.

Pertunjukan kedua, ditampilkan Tari Perang Janoko-Cakil yang dibawakan oleh dua penari pula, Sagitaka dan Fendy. Tari ini menggambarkan perang antara budi luhur dan sifat angkara. Cakil sebagai simbol angkara selalu berusaha mengalahkan Janaka yang berbudi luhur, namun tidak pernah berhasil.

Setelah itu kemudian disusul tari-tari lain, yakni Tari Golek Maya Asmara, Beksan Bhatara Wisnu-Prabu Kincoro Kresno dan Beksan Ontorjo-Burisrowo. Ditampilkan pula aksi dalang cilik Ramadhanu Aji Putra yang memainkan wayang kulit dengan lakon Kikid Tunggarana.

Ketua Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram Yogyakarta, KRT Sunaryadi Maharsiworo, mengatakan pihaknya kini tengan menyiapkan paket tarian untuk dikemas dalam paket wisata. "Berisi tarian Jogja yang sederhana dan pendek," katanya.

Dia menjelaskan Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram Yogyakarta yang berada di Jalan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, terbentuk sejak 1984. Saat ini, anggotanya sekitar 150 orang yang kebanyakan anak muda dan anak-anak.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Aria Nugrahadi, mengatakan pentas tarian tersebut menjadi potensi besar untuk mendukung pariwisata di DIY. "Harus terus dikuatkan karena ini merupakan karakter wisata DIY, yakni seni budaya. Maka kami mendorong kelompok seni untuk terus menunjukkan karyanya," katanya.

Untuk itu dia berharap pelaku seni dan perangkat pemerintahan setempat juga bisa bersinergi saling mendukung. Kegiatan seni bisa dimasukkan dalam paket wisata dan menjadi daya tarik wisatawan.