Miris, Ada Petugas Kesehatan yang Enggan Pegang Tangan Pasien HIV/AIDS

Peneliti HIV/AIDS FK-KMK UGM, Yanri Wijayanti Subrontyo (kedua dari kiri) memaparkan praktik diskriminasi terhadap ODHA.-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
20 Desember 2019 22:57 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANOrang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih kerap menerima perlakuan diskriminatif di lembaga pelayanan kesehatan, lantaran stigma negatif yang melekat pada mereka. Hal itu terungkap dalam Outbreak Exhibition yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM di kampus tersebut Jumat (20/12/2019) pagi.

Peneliti HIV/AIDS FK-KMK UGM, Yanri Wijayanti Subrontyo, menjelaskan belum ada edukasi kepada tenaga medis berkaitan dengan perlakuan dan pelayanan kepada ODHA. Khususnya edukasi mengenai bagaimana menerima seseorang yang berbeda dari orang pada umumnya.

"Ada sentimen terhadap waria, pekerja seks komersial [PSK] dan ODHA," kata Yanri, Jumat kemarin.

Menurutnya rasa kemanusiaan harus didahulukan untuk menolong orang yang membutuhkan, terutama ODHA. "Jangan dilihat apa agamanya maupun sukunya," ungkapnya.

Ia menilai pemahaman soal keberagaman seksual perlu dipahami semua pihak, tidak hanya oleh tenaga medis saja. "Itu untuk memudahkan bagaimana memperlakukan mereka," kata dia.

Perwakilan Yayasan Vesta Indonesia, March Setya Kurniawan, menyatakan orientasi seksual tidak berhubungan dengan penularan HIV/AIDS. Penularan kata dia terjadi akibat perilaku seksual seseorang yang berisiko terkena HIV/AIDS.

Ia berharap para tenaga medis memiliki pemahaman yang komprehensif dalam melayani ODHA. Yakni memahami pasien yang punya karakteristik orientasi seksual berbeda-beda. "Karakteristiknya berbagai macam, tidak hanya yang heteroseksual saja," ujarnya.

Perwakilan dari lembaga advokasi penyintas ODHA, Victory Plus, Ragil Sukoyo, menambahkan pihaknya bercita-cita pada 2030, Indonesia bebas stigma terhadap ODHA. Kendati demikian, praktik di lapangan menunjukkan hal berbeda.

"Kami kerap mendampingi pasien [ODHA] yang bahkan tenaga kesehatan tidak mau menyentuh tangan mereka," jelas dia. Perlakuan diskriminatif kata dia acap kali membuat penyintas ODHA memilih berhenti berobat.