Sleman Dapat Rp53,5 Miliar dari Danais 2020, Ini Rencana Penggunaannya

Warga beraktivitas di lahan yang gagal dijadikan sebagai Taman Budaya Sleman yang berada di Dusun Berjo Kulon, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, belum lama ini. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
23 Desember 2019 05:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tahun 2020, alokasi dana keistimewaan (Danais) untuk Kabupaten Sleman disetujui sekitar Rp53,5 miliar. Dari jumlah tersebut, alokasi Danais untuk urusan kebudayaan yang diampu oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) sebesar Rp44,7 miliar.

Kepala Bidang Data dan Perencanaan Pembangunan Bappeda Sleman Nur Fitri Handayani menjelaskan alokasi Danais untuk Disbud tersebut termasuk untuk pengadaan tanah pembangunan Taman Budaya Sleman. Pembangunan Taman Budaya tersebut rencananya dilakukan di Pandowoharjo, Sleman dengan luas lahan sekitar tiga hektare.

Selain Disbud, alokasi Danais juga diberikan untuk urusan pertanahan dan tata ruang. Untuk urusan pertanahan Danais yang disediakan sebesar Rp7,2 miliar. Dana tersebut salah satunya digunakan untuk proses pendataan dan sertifikasi tanah Sultan Grond. Untuk tata ruang, alokasinya sebesar Rp700 juta.

"Ini untuk rencana penerbitan izin penetapan lokasi [IPL] rencana pembangunan jalan Prambanan-Gunungkidul. Sebagian lahan yang dibebaskan menggunakan Danais," kata Fitri, Minggu (22/12/2019).

Adapun urusan kelembagaan, Danais yang dikelola oleh Bagian Organisasi Sekda Sleman dialokasikan sebesar Rp915 juta. Alokasi dana tersebut salah satunya digunakan untuk monitoring pelaksanaan dan pendampingan terkait Perda Kalurahan. Termasuk perubahan nomenklatur kecamatan desa di wilayah DIY untuk menjalankan amanat UU No.13/2012 tentang Keistimewaan DIY.

"Bagian Organisasi juga akan melakukan monev penerapan Budaya Pemerintahan Satriya. Bagaimana aparatur pemerintah harus berkomitmen, bekerja keras, cerdas dan ikhlas agar pemerintah lebih amanah dan akuntabel," katanya.

Disinggung soal penggunaan Danais untuk Desa, Fitri menjelaskan jika masalah tersebut masih terus dibahas. Salah satunya, mengenai skema transfer Danais apakah langsung ke kas desa atau masih ke kas daerah.

"Skemanya masih belum final. Sebab untuk tahun depan alokasi Danais masih menggunakan skema BKK. Kemungkinan disiapkan dulu SDM di desa sebelum ditransfer langsung ke desa," katanya.

Bappeda sendiri tidak mempermasalahkan jika transfer Danais bisa dilakukan langsung ke desa. Hal itu sebagai salah satu bentuk pemangkasan birokrasi dan Desa bisa memanfaatkan langsung penggunaan Danais. "Termasuk pertanggungjawaban penggunaan Danais bisa langsung ke provinsi," katanya.

Capaian Danais
Kepala Subbid Pengendalian Bappeda Sleman Christiana Rini Puspita menjelaskan berdasarkan data capaian penyerapan Danais untuk Disbud Sleman pada pertengahan Desember 2019, realisasi keuangan mencapai Rp15,53 miliar atau 94,4%. "Danais yang diterima Rp16,45 miliar. Untuk realisasi fisik sudah mencapai 98,39 persen, masih ada waktu hingga akhir Desember," katanya.

Untuk urusan kelembagaan dari Danais Rp445,1 juta Rp374,1 juta, penyerapan keuangan mencapai Rp374,1 juta (84%) sementara realisasi fisiknya mencapai 92%. "Untuk urusan pertanahan dan tata ruang, kami masih menunggu data terupdate. Kalau yang belum update ada, tetapi sampai saat ini sudah banyak perubahannya," kata Rini.

Kepala Bidang Dokumentasi dan Publikasi Disbud Sleman Wasito mengatakan penyerapan Danais untuk 2019 sudah mencapai hampir 100%. Alokasi Danais sebesar Rp16,45 miliar digunakan untuk empat program dengan 15 kegiatan.

"Untuk 2020, alokasi Danais Disbud sebesar Rp44,77 miliar untuk lima program dan 17 kegiatan. Di antaranya Rp29,29 miliar untuk pengadaan tanah taman budaya," katanya.