Koleksi Taman Batu Ngingrong Masih Belum Lengkap

Sejumlah pengunjung saat melihat koleksi di Taman Batu Ngingrong, Desa Mulo, Wonosari. Senin (23/12/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
23 Desember 2019 22:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Koleksi di Taman Batu Gua Ngingrong, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, masih belum seperti yang diharapkan. Dari 90 jenis batu yang diidentifikasi berada di wilayah karst Gunungsewu, saat ini baru terdapat 20 jenis batu yang dikoleksi.

Ketua Jaringan Geopark Indonesia, Budi Martono, mengatakan keberadaan taman batu masih butuh pengembangan sehingga fungsinya bisa dioptimalkan sebagai etalase kawasan karts Gunungsewu. Menurut dia, fokus pengembangan bisa dilihat dari koleksi bebatuan yang belum sesuai dengan harapan.

Menurut Budi, secara keseluruhan ada 90 jenis batu yang ada, tapi dari jumlah tersebut baru ada 20 jenis yang bisa dikoleksi di Taman Batu Ngingrong. “Masih banyak yang berada di alam dan belum dipindahkan ke museum,” kata Budi kepada wartawan, Senin (23/12/2019).

Menurut dia, untuk menambah koleksi butuh biaya yang besar sehingga proses dilakukan secara bertahap. Selain itu, untuk menambah koleksi juga sering bertukar jenis bebatuan dengan daerah lain seperti dari wilayah Kebumen dan Wonogiri, Jawa Tengah, serta Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. “Upaya ini dilakukan untuk menambah koleksi sehingga bisa lebih lengkap lagi. Dalam waktu dekat kami juga menambah koleksi berupa fosil kayu dari Merangin, Jambi,” kata mantan Sekda Gunungkidul itu.

Meski koleksi yang dimiliki masih belum lengkap, keberadaan taman batu sudah bisa dinikmati secara umum. Menurut dia, hingga sekarang sudah banyak wisatawan yang berkunjung untuk melihat koleksi yang dimiliki. “Terakhir ada tim dari LIPI yang melihat koleksi di Taman Batu Ngingrong,” katanya.

Dia berharap keberadaan Taman Batu Ngingrong bisa dimanfaatkan sebagai wisata edukasi, khususnya di Gunungkidul yang berkaitan dengan proses pembentukan kawasan karst Gunungsewu. “Dulu Gunungkidul berada 40 meter di bawah laut tapi dengan adanya proses pengangkatan maka wilayahnya menjadi seperti sekarang ini,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono. Menurut dia, koleksi di Taman Batu Ngingrong akan terus ditambah baik berasal dari kawasan karst Gunungsewu maupun geopark lainnya di Indonesia. “Semakin bertambah koleksinya maka semakin baik,” katanya.

Dia menjelaskan untuk informasi geopark, di Gunungkidul terdapat dua lokasi. Selain di Taman Batu Ngingrong, ada pusat informasi geologi di bekas Kantor Kecamatan Patuk. “Keduanya saling mendukung. Untuk pusat informasi geologi lebih kepada informasi secara digital, sedangkan di Taman Batu Ngingrong merupakan bagian dari studi lapangan sehingga bisa saling melengkapi,” katanya.