Bos Summarecon Diduga Beri Rp1,5 Miliar untuk Urus SHGB
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Pembuangan sampah di TPST Piyungan, Bantul, Jumat (29/3/2019)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, BANTUL- Dalam sepekan terakhir kendaraan pengangkut sampah mengantrE di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Antrean ini panjangnya mencapai satu kilometer.
Karena intensitas hujan yang cukup tinggi di Bantul menyebabkan satu dermaga lain [titik pembuangan sampah di TPST] tidak berfungsi, alhasil kendaraan ini harus bergantian menurunkan sampah dengan menggunakan satu dermaga saja.
Salah satu sopir truk sampah, Mijan, mengeluhkan kondisi ini. Pasalnya untuk menurunkan sampah Sleman harus mengantre hingga tiga jam. Padahal biasanya hanya butuh 15 menit untuk menurunkan muatannya.
"Biasanya saya sebelum jam 2 siang sudah beres, ini sampai sore antrean masih panjang seperti ini, soalnya musim hujan seperti ini dermaganya hanya ada satu," ungkapnya.
Pengelola sampah swasta ini menyebut antrian ini tidak hanya merugikan sopir truk sampah, namun juga warga yang menjadi pelanggannya pun terdampak.
Katanya dengan lamanya antrian itu menyebabkan pengambilan sampah di rumah warga menjadi lebih jarang. Dalam sepekan biasanya Mijan mengambil sampah di rumah warga hingga tiga kali, namun karena waktu kerjanya habis untuk mengantri maka dia hanya bisa mengambil sampah sekali seminggu.
"Akhir-akhir ini saya ya sering dikomplain sama pelanggan, tapi ya bagaimana lagi kalau mau buang harus antre sepanjang ini, biasanya kan bisa ngambil sampah di pelanggan tiga kali seminggu, sekarang jadi satu minggu sekali," keluh Mijan.
Ketua Paguyuban Pemulung TPST Piyungan, Maryono menyebut ada dua titik lokasi yang biasanya digunakan untuk menurunkan sampah. Titik penurunan atas biasanya digunakan untuk truk pemerintah maupun swasta yang menggunakan dump.
Sedangkan titik penurunan bawah digunakan untuk kendaraan lain. Sejak sepekan terakhir titik penurunan sampah bawah tidak berfungsi lantaran tidak dapat dilewati kendaraan. Kondisi akses ke titik tersebut becek karena diguyur hujan.
"Makanya semua jadi satu di atas, itu pun kalau saya bilang bukan dermaga karena cuma di pinggir jalan, yang dibawah itu tidak berfungsi karena tidak bisa dilewati kendaraan berat, jalannya terlalu becek," kata Maryono.
Maryono berharap jika pemerintah masih ingin menggunakan TPST Piyungan, seharusnya pihak pemerintah lebih serius lagi dalam hal memperbaiki jalan yang digunakan para truk untuk menurunkan angkutan sampah mereka.
"Saya mohon pemerintah lebih serius lagi dalam menangani TPST Piyungan, karena jalur jalan yang digunakan sudah tidak bisa lagi dilewati, banyak yang bolong dan berlumpur," harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Nusron Wahid mengaku pengunduran diri dari kepengurusan Golkar sudah dibahas dengan Bahlil sejak tahun lalu.
Topan Dujuan mendekati Tokyo, JAL dan ANA membatalkan sedikitnya 275 penerbangan akibat cuaca buruk dan hujan ekstrem.
Simak lima alat pelacak mobil, mulai dari GPS Kabel Android hingga Super Spring VT-100 M. Ketahui fitur dan kisaran harganya.
Survei Culture Amp menunjukkan 85% karyawan didorong memakai AI di tempat kerja. Namun, sebagian masih membutuhkan penjelasan tentang tujuan dan dampaknya.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 131 sekolah yang mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah Pusat. Diharapkan dapat meingkatkan sarpras di sekolah.