Ini Wilayah di DIY yang Berpotensi Hujan Lebat Sepekan ke Depan

Ilustrasi. - Reuters
10 Januari 2020 07:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :


Harianjogja.com, SLEMAN-- BMKG Staklim Mlati Yogyakarta menyatakan berdasarkan hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan masih adanya potensi hujan lebat di beberapa wilayah DIY untuk beberapa hari kedepan.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan berkurangnya pola tekanan rendah di Belahan Bumi Utara (BBU) dan meningkatnya pola Tekanan Rendah di wilayah Belahan Bumi Selatan (BBS) mengindikasikan terjadinya peningkatan aktifitas Monsun Asia yang dapat menyebabkan penambahan massa udara basah di wilayah Indonesia.

"Selain itu, meningkatnya pola tekanan rendah di BBS [sekitar Australia] dapat membentuk pola konvergensi [pertemuan Massa udara] atau belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia terutama di bagian selatan ekuator," ujar Reni, Kamis (9/1/2020).

Sementara itu berdasarkan model prediksi, aktifitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah diprediksikan aktif di sekitar wilayah pulau Jawa selama periode lima hari ke depan.

"Kondisi ini tentunya dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan cukup signifikan di wilayah pulau Jawa dan khususnya di wilayah D.I. Yogyakarta," tambahnya.

Mencermati kondisi dinamika atmosfer di atas, BMKG Stasiun Klimatologi Mlati kembali melakukan update informasi peringatan dini potensi cuaca ekstrim di wilayah DIY serta proyeksi cuaca untuk beberapa hari ke depan.

Sebagian besar wilayah DIY masih berpotensi terjadi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang.

"Kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan bagi masyarakat akan potensi bencana hidrometeorologis lainnya berupa banjir, banjir bandang dan tanah longsor," tegasnya.

Adapun daerah-daerah yang berpotensi menerima curah hujan dengan intensitas sedang - lebat pada periode 08 - 12 Januari 2020 adalah sebagai berikut, di Kulonprogo (Girimulyo, Nanggulan, Samigaluh, Kalibawang, Galur, Lendah, Panjatan, Kokap, Wates, Temon).

Di kabupaten Sleman (Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Minggir, Seyegan, Moyudan, Godean, Mlati, Gamping).

Di kabupaten Bantul (Sedayu, Kasihan, Sewon, Pajangan, Bantul, Pleret, Pandak, Srandakan, Sanden, Bambanglipuro, Jetis, Banguntapan, Piyungan, Dlingo). Kemudian, di Gunungkidul (Patuk, Playen, Gedangsari) serta kota Yogyakarta.

Sementara itu, potensi ketinggian gelombang laut di wilayah Indonesia hingga mencapai 2.5 – 3.5 meter dapat terjadi di Perairan Selatan DIY.

Untuk itu, lanjut Reni, nelayan dan wisatawan yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati. "Serta memperhatikan himbauan dari petugas di sekitar area pantai," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, masyarakat diminta untuk mewaspadai aliran air yang mengalir saat turun hujan guna mengantisipasi bencana tanah longsor.

BPBD Sleman mensinyalir jika bencana longsor yang masih terjadi di Bumi Sembada akibat aliran air yang tidak diatur dengan baik sehingga mengakibatkan fenomena alam seperti tanah longsor.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, melaporkan jika aliran air kecil yang berasal dari air hujan yang secara terus menerus terjadi, jika tidak dibarengi dengan mekanisme pembuatan aliran air yang baik akan menimbulkan potensi longsor.