Pengakuan Orang Dekat Totok Santoso: Raja Keraton Sejagat Tipu Warga lewat Ormas DEC DIY

Hadi Suroso-Harian Jogja - NAT
15 Januari 2020 17:57 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Hadi Suroso, 74, seorang warga Padukuhan Tompak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Gunungkidul ternyata memiliki kisah kelam dengan Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat, yang belakangan ini viral setelah mengklaim menjadi Raja Keraton Agung Sejagat, di Purworejo, Jawa Tengah.

Pria yang akrab disapa Roso ini diketahui pernah menjadi orang kepercayaan Totok Santosa untuk menjadi Koordinator atau ketua Gunungkidul Development Commite (DEC). Menurut pengakuan Roso, DEC sendiri merupakan lembaga yang dinakhodai oleh Totok.

"Totok itu yang punya DEC DIY-Jateng, saya dulu dipercaya untuk menjadi koordinator untuk wilayah Gunungkidul," kata Roso saat ditemui dirumahnya, Rabu (15/1/2020) siang.

Namun, sebelum lebih jauh mempertanyakan sosok Totok, Harianjogja.com mencoba mengonfirmasi lebih dulu paras sang raja melalui foto yang beredar. Tak pelak, Roso memastikan bahwa Totok yang dimaksud benar. Totok yang berpakaian raja dengan didampingi seorang permaisuri itu merupakan Totok yang pernah menjanjikan gajinya sebagai Koordinator Gunungkidul DEC sebesar 500 dolar Amerika Serikat setiap bulannya atau sekitar Rp685.000 bila menggunakan kurs rupiah saat ini.

Tak pelak, saat wartawan memberikan informasi bahwa Totok Santosa saat ini sudah dicokok polisi, Roso tampak bahagia. "Saya dulu sampai jual sawah hanya untuk biayai kegiatan dia," ujarnya.

Bahkan, rumah yang ditinggalinya saat ini pernah menjadi sekretariat Gunungkidul DEC. Totok Santosa bersama anggotanya pun sudah berkali-kali datang ke rumahnya itu untuk menggelar rapat guna menjaring dan mengembangkan lebih besar lagi masyarakat agar ikut Gunungkidul DEC.

Saat ditanya alasan kenapa dirinya bergabung, Roso terdiam sejenak. Sambil membenarkan duduknya, Roso mengenang kembali masa pahit itu. Awal mula kejadian itu, pada tahun 2016 silam, Roso didatangi oleh salah seorang warga Wonosari bernama Retno dengan didampingi Totok Santosa langsung.

Kedatangan mereka di kediamannya tersebut sebagai bentuk keseriusan Totok untuk mengembangkan lembaga yang miliknya itu bisa berkembang dari DIY-Jateng DEC hingga ke pelosok, salah satunya Gunungkidul. "Lah, wong saya saja tidak pernah kenal dengan bu Retno sebelumnya, ya pertama kali kenal pas datang kerumah itu bersama Totok," paparnya.

Alasan waktu itu, sebagai mantan Komandan Rayon Militer (Danramil), Roso bisa dipercaya oleh Totok untuk memegang DEC di Gunungkidul. Sebab, waktu itu Retno mengungkapkan kepada Totok bahwa dirinya merupakan tokoh yang berpengaruh.

"Katanya saya itu orangnya berpengaruh, bisa ngumpulke masa makanya saya cocok untuk memimpin Gunungkidul DEC," ujarnya.

Awalnya, Roso sudah berfikiran hal itu tidak masuk akal. Namun, setelah didatangi berkali-kali, Roso akhirnya luluh dengan rayuan Totok. Bahkan, Totok menjanjikan akan ada dana sosial yang berasal dari luar negeri. Dana itu guna melancarkan program kegiatan yang entah dirinya sudah lupa.

"Janji manisnya itu gaji saya 500 dollar per bulan," ujarnya.

Roso sendiri menjabat sebagai koordinator tersebut tidak kurang dari 2 tahun. Selama itu, warga yang direkrutnya sudah cukup banyak dan semua biaya yang keluar menggunakan dana pribadinya. Bahkan, ia rela menjual sawah miliknya untuk digunakan dalam melancarkan aktiftasnya bersama anggota dan iurannya kepada Totok. Namun, saat ditanya total iuran tersebut, Roso enggan menjawab. Dirinya lebih memilih menyimpan sendiri kisah kelam itu.

"Sawah saya jual untuk biaya operasional karena hampir tiap minggu saya bolak-balik ke Jogja bersama anggota, dan semua saya yang biayai," tuturnya.

Hingga akhirnya Roso benar-benar mencium gelagat yang kurang baik dari lembaga Totok dan memutuskan hengkang dari dunia Gunungkidul DEC sejak tahun 2018 akhir. Saat itu juga, komunikasi dengan Totok hilang bak ditelan bumi. Sedangkan beban moral kepada anggotanya hingga saat ini masih terus ada.