HASIL UJI LAB: 27 Warga Gunungkidul Positif Antraks

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berupaya mengubur bangkai sapi milik Sunaryo yang mati mendadak di Dusun Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Selasa (27/8/2019)./Istimewa - Dokumen DPP Gunungkidul
15 Januari 2020 15:52 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Wabah antraks benar-benar terjadi di Gunungkidul.

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul merilis hasil uji laboratoirum sampel darah ternak dan warga di Dusun Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombang, Ponjong dari Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Bogor, Jawa Barat dan Wates, Kulonprogo pada Rabu (15/1/2020). Hasilnya, ada 3 sampel tanah bekas pemotogan 2 ekor kambing dan 1 ekor sapi, 1 darah sapi, dan 27 warga dinyatakan positif terpapar bakteri antraks.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti mengungkapkan pengambilan sampel darah terbagi dua. Pertama ternak yang ditemukan mati tetapi belum dikonsumsi warga, sehingga pihaknya langsung mengambil sampel darah dan mengubur ternak tersebut. Kedua, sampel tanah bekas pemotongan ternak yang lainnya. Sebab ternak ada yang sudah hilang akibat dikonsumsi dan dugaan dijual oleh warga Ngrejek Wetan.

"Ternak yang kami temukan darahnya diambil, karena protap hanya ambil darah bukan daging. Terus sampel kedua berasal dari tanah bekas lokasi pemotongan ternak. Dari 6 sampel ada 4 yang positif dan 2 negatif," ujar Retno disela jumpa pers 'Penanganan Antraks di Kabupaten Gunungkidul' pada Rabu (15/1/2020).

Retno menuturkan total hewan ternak mati mendadak di Dusun Ngrejek Wetan dan Kulon berjumlah 10 ekor dengan rincian 3 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Belakangan diketahui beberapa hewan lantas dikonsumsi oleh warga sekitar dengan cara di bagi-bagikan oleh warga sekitar atau Brandu.

"Jadi jelas sampai saat ini penyebabnya karena Brandu itu. Bahkan di Dusun Ngrejek Wetan setiap rumah mendapat bagian daging ternak yang mati mendadak, kalau Ngrejek Kulon hanya beberapa saja yang minta," kata dia.

Pihaknya menduga asal muasal dari penyebaran bakteri antraks tersebut karena akibat ada seekor kambing yang dibeli di pasar hewan pada Senin (16/12/2019) lalu. Awalnya, kambing yang dibeli oleh salah satu kelompok masyarakat itu untuk dipelihara, tetapi tiba-tiba keesokan harinya Selasa (17/12/2020) mati mendadak dan disembelih kemudian dibagikan oleh warga sekitar Ngrejek Wetan.

Lantas, sapi ternak milik Sukirat pada Rabu (18/12) juga mengalami kejang-kejang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan ke warga lagi. Selang beberapa hari ternak warga lainnya dilaporkan mati mendadak. Sehingga, aparat desa melaporkan insiden tersebut ke dinas terkait. Setelah itu, DPP melakukan penanganan lokasi kejadian tersebut.

"Jadi total hewan mati di Dusun Ngrejek ada 10 ekor, sapi 3 ekor dan kambing 7 ekor," ujarnya.

Sementra itu Retno menuturkan data saat ini, total seluruh ternak yang mati mendadak di wilayah Kabupaten Gunungkidul sejak Selasa (17/12/2019) hingga Rabu (15/1/2020) sebanyak 21 ekor sapi dan 15 ekor kambing. Ia memastikan ternak yang mati mendadak diluar Dusun Ngrejek hasil laboratoriumnya menunjukkan negatif antraks. Ternak-ternak lainnya itu diduga mati mendadak karena penyakit hewan pada umumnya.

"Alhamdulillah ternak di luar Dusun Ngrejek hasilnya negatif. Yang positif tetap hanya yang ada di wilayah Dusun Ngrejek dengan jumlah tadi," kata Retno.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro mengungkapkan warga di Dusun Ngrejek, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong yang terpapar suspect antraks sebanyak 540 orang dan di Kecamatan Semanu 60 orang, sehingga total 600 orang. Mereka merupakan warga yang melakukan kontak langsung mulai dari membeli hingga mengkonsumsi.

"Kalau yang suspect itu yang ada gejala klinisnya, sebanyak 87 orang dan kami ambil sampel darahnya sebanyak 54 orang kemudian juga ada kami ambil swift [pemeriksaan luka tanpa menyentuh luka] luka itu 11 orang. Yang hasilnya positif itu 27 orang dari Ngrejek Wetan, kalau yang swift-nya itu negatif semua," paparnya.

Ia menjelaskan sampel luka swift di kirim uji lab di BB Litvet Wates, Kulonprogo. Sedangkan sampel darah dikirim ke BB Litvet Bogor, Jawa Barat.

Sumitro menuturkan dari 600 orang tersebut sejak awal telah diberikan antibiotik. Sedangkan warga yang positif antraks antibiotiknya akan diteruskan penggunaannya hingga 20 hari kedepan. Tak hanya itu, sampel darah warga yang positif kembali diambil sampel darahnya untuk di uji lab.