Ini Lokasi Pasar yang Jadi Tempat Penjualan Ternak Asal Dusun Terpapar Antraks

Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019). - Istimewa
16 Januari 2020 18:17 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjoghja.com, GUNUNGKIDUL- Sejumlah pasar di Gunungkidul dan di Jawa Tengah jadi lokasi peredaran ternak yang berasal dari daerah positif antraks.

Puluhan ternak yang berasal dari tanah atau lokasi positif antraks di Dusun Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombangan, Ponjong, terlanjur dijual ke sejumlah pasar di Gunungkidul dan Jawa Tengah, sebelum dilakukan pengecekan pada hewan tersebut.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti, menyatakan pihaknya baru turun ke lapangan mengecek tanah tempat lokasi kandang ternak di Dusun Ngrejek Wetan dan Kulon pada 26 Desember 2019.

Saat itu ternyata sudah beredar sebanyak 26 ternak sapi dan kambing dari dua dusun itu. Puluhan ternah itu dijual hingga ke Jawa Tengah. Padahal belakangan baru diketahui, tanah tempat ternak itu dipelihara ternyata positif terpapar bakteri antraks.

"Dari rentetan kematian ternak itu [Ngrejek Wetan dan Kulon] ternyata sudah ada ternak yang sempat dijual, ada 20 ekor kambing yang keluar dari Dusun Ngrejek," kata Retno di sela-sela Sosialisasi Surat Edaran Bupati Gunungkidul tentang Waspada Antraks di Ruang Rapat Setda 1 bersama kepalda desa dan aparat pemerintah desa, Kamis (16/1/2020) siang.

Tak hanya kambing, lanjut Retno, ada 6 ekor sapi dijual di wilayah Jawa Tengah. Retno merinci dari 20 ekor tersebut 12 ekor di jual di Pasar Siyono Playen, 8 ekor dijual di Pasar Plumbungan Karangmojo, 6 ekor di jual di Pasar Purwantoro Wonogiri, Jawa Tengah.

Sehingga, pihaknya meminta agar seluruh wilayah untuk tetap meningkatkan kewaspadaannya. Sebab, tidak ada yang tahu jika ternak yang berasal dari daerah tertular merupakan ternak yang berbahaya dan mampu menularkan ke ternak di wilayah lainnya.

"Seandainya ada yang menemukan ternak mati segera lapor, jangan sampai dikonsumsi, dan segera dikubur. Kalau dikubur akan beda ceritanya," paparnya.

Sementara itu, jika menelusuri jejak awal penyebaran bakteri antraks, Gunungkidul adalah korban terakhir. Sebab, wilayah Bumi Handayani ini dikepung dengan daerah-daerah yang pernah terjangkit antraks seperti Kabupaten Sleman tahun 2006, Boyolali tahun 2011, Sragen tahun 2011, Pacitan tahun 2016 Kulonprogo tahun 2017, Wonogiri tahun 2019, dan pertama kali wilayah Gunungkidul tahun 2019.

"Kita ini termasuk korban terakhir, jadi kalau antraks yang pertama kali itu muncul sudah diprediksi tinggal menunggu tanggal mainnya. Dan akhirnya di Desember 2019 terjadi lagi [Desa Gombang]," ujarnya.

Menurut dia, ternak-ternak dari berbagai wilayah tersebut masuk ke Gunungkidul ibarat melalui pasar bebas, tak ada pintu lalulintas yang digunakan untuk pemeriksaan ternak, sehingga ternak-ternak itu masuk dengan bebas merdeka tanpa ada pemeriksaan.

"Akhirnya dipasar-pasar kita ada spora yang dibawa [dari hewan luar] bahkan bisa dibawa melalui apasaja seperti melalui ban mobil, kaca, pakan ternak, itu semua mudah sekali membawa spora," kata dia. Ia menuturkan spora tersebutlah yang akan bertahan lama. Bahkan hingga 40-80 tahun lamanya.