Proyek Sumur Bor Tak Jelas, Warga Serut, Gedangsari, Geruduk Balai Desa

Puluhan warga Dusun Wangon dan Dawung, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, saat menggelar aksi unjukrasa di balai desa setempat, Senin (20/1/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
20 Januari 2020 19:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Puluhan warga Dusun Wangon dan Dawung, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, menggeruduk balai desa setempat, Senin (20/1/2020). warga menggelar aksi unjukrasa untuk meminta kejelasan proyek pembangunan saluran air bersih (SAB) 2017 yang diklaim oleh warga tak terealisasi.

Dengan membawa replika keranda mayat dan belasan spanduk bernada sindiran, warga menggelar orasi di halaman balai desa setempat. Beberapa perwakilan warga kemudian diterima jajaran pemerintah desa untuk berdialog.

Warga Dusun Wangon, Zainurrahman, aksi digelar untuk mempertanyakan progres pembangunan SAB berupa sumur bor di dua dusun sesuai dengan perencanaan yang tertuang dalam APB-Des 2017. Dalam perencanaan, total anggaran pembangunan sumur bor sebesar Rp100 juta untuk dua dusun.

"Berdasar informasi, dana pembangunan sudah dicairkan tetapi sampai saat ini sumur bor belum wujudnya," kata Zainurrahman seusai bertemu dengan pamong desa di Balai Desa Serut, Senin.

Warga, menurut Zainurrahman, menuntut kejelasan anggaran tersebut kepada pemerintah desa. Kejelasan proyek sangat penting karena program SAB merupakan salah satu upaya membantu warga di dua dusun agar tidak krisis air saat musim kemarau seperti yang terjadi selama ini. "Selama ini warga masih sabar menunggu, tapi karena tak kunjung terealisasi, kami menggelar aksi ini untuk menanyakan kelanjutan proyek," ujarnya.

Warga Dusun Dawung, Saryono, mengatakan pembangunan sumur bor diusulkan sejak 2016 melalui musyawarah dusun. Usulan itu ditanggapi oleh pemerintah desa dan dimasukkan dalam program pembangunan di 2017. Saat musyawarah dusun 2019, warga kembali menanyakan kelanjutan program tersebut, namun warga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Yang kami pertanyakan anggaran Rp100 juta itu larinya ke mana," ujarnya.

Warga, menurut Saryono sudah melaporkan kejanggalan itu ke Polda DIY. Saat ini warga menunggu tindak lanjut dari aparat kepolisian. Ia memohon kepada masyarakat lain agar bisa sabar menunggu penyelidikan yang dilakukan polisi.

Saat digelar pertemuan, Kepala Desa Serut, Suyono, tak terlihat ikut menemui warga. Menurut Sekretaris Desa Serut, Nuri Kasanah, pimpinannya tengah berada di Wonosari mengikuti kegiatan di Pemkab Gunungkidul. Nuri hanya berjanji akan menampung aspirasi warga untuk disampaikan kepada kepala desa. "Kami menampung aspirasi warga, dan nanti kami teruskan ke kepala desa," ujarnya.

Terkait dengan pembangunan fisik dari anggaran SAB sesuai tuntutan warga, Nuri memilih irit berbicara. Ia menuturkan yang berwenang memberikan tanggapan terkait dengan persoalan itu adalah kepala desa, sehingga dirinya tak bisa berkomentar banyak. Ia hanya mengungkapkan dokumen bukti pembangunan sarana SAB sudah ada. "Untuk dokumennya tidak bisa kami sampaikan karena itu menjadi rahasia kami, karena dokumen negara tidak untuk dipublikasikan," ujar Nuri.