SURVEI TERBARU: Bukannya Membaik, Ketimpangan Ekonomi di Jogja Semakin Menganga

Ilustrasi kemiskinan. - JIBI
03 Februari 2020 17:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Angka kemiskinan DIY alami penurunan pada September 2019 dibandingkan Maret 2019, tetapi Gini ratio atau tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk DIY, masih tertinggi di Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono mengatakan ada sedikit penurunan persentase penduduk miskin di DIY pada September 2019 yang tercatat sebanyak 11,44% atau 440,89 ribu dibandingkan pada Maret 2019 yang sebesar 11,70% atau 448,47 ribu orang.

“Turunnya sedikit pada September 2019 jika dibandingkan Maret 2019. Masih di dua digit angka kemiskinannya, dan di atas angka Indonesia yang sebesar 9,22%,” ucap Heru, Senin (3/2/2020).

Komoditi makanan masih mendominasi pembentukan garis kemiskinan dibandingkan dengan komoditi bukan makanan. Pada September 2019, garis kemiskinan makanan tercatat sebesar Rp322.999 per kapita per bulan dan kontribusinya terhadap garis kemiskinan sebesar 71,86%. Sementara pada saat yang sama, garis kemiskinan non makanan sebesar Rp126.486 per kapita per bulan dan berkontribusi sebesar 28,14% terhadap garis kemiskinan.

Heru juga mengatakan penurunan juga terjadi pada Indeks Kedalaman Kemiskinan pada Maret 2019 sebesar 1,741, pada September turun menjadi 1,545. Begitu pula Indeks Keparahan Kemiskinan yang mengalami penurunan pada September 2019 sebesar 0,301, setelah sebelumnya pada Maret 2019 sebesar 0,384.

Meski angka kemiskinan di DIY pada September 2019 mengalami penurunan, namun Gini ratio di DIY masih menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia, dan justru mengalami kenaikan.

Pada September 2019 angka Gini Ratio DIY sebesar 0,428 atau mengalami peningkatan dibandingkan Maret 2019 yang tercatat sebesar 0,423.

“DIY paling tinggi di antara seluruh provinsi. Banyak faktor yang mempengaruhi gini ratio pertama pertumbuhan industri ternyata triwulan kemarin terutama mikro kecil turun. Kemudian ada perlambatan pertumbuhan ekonomi triwulan tiga mempengaruhi gini ratio,” ucapnya.

Jika dibedakan kota dan desa. Angka gini ratio di perkotaan mengalami peningkatan pada September 2019 jika dibandingkan dengan Maret 2019. Angka gini ratio di perkotaan sebesar 0,430 atau naik 0,006 poin dalam satu semester terakhir. Sementara itu tingkat ketimpangan di perdesaan memperlihatkan adanya penurunan. Angka gini ratio September 2019 di pedesaan sebesar 0,326 atau turun 0,002 poin dibandingkan kondisi Maret 2019.

Ia mengatakan berdasarkan kriteria Bank Dunia, tingkat ketimpangan di DIY berada pada kategori ketimpangan sedang. Hal tersebut tercermin dari presentase pengeluaran kelompok 40% penduduk terbawah yang besarnya mencapai 15,22%. “Kita berharap Gini ratio akan terus turun mendekati 0 atau pemerataan sempurna,” katanya.