Pelaku Klithih Diburu, Remaja yang Nongkrong di Atas Jam 12 Malam Bisa Diciduk Polisi

Ilustrasi. - JIBI/Solopos
04 Februari 2020 19:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Remaja yang masih nongkrong atau berkeliaran lebih dari jam 12 malam dan tidak mempunyai tujuan yang jelas akan dilakukan pemeriksaan oleh tim khusus yang telah dibentuk Polres Sleman dalam mengantisipasi kejahatan jalanan (klithih) yang semakin meresahkan masyarakat.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah mengatakan jika ia membentuk tim khusus yang merupakan gabungan dari beberapa Polsek dan penyidik Polres. Mereka dipilih karena memiliki keahlian yang berbeda-beda dan dinilai mumpuni dalam menangani kasus klithih.

"Saya namakan tim khusus, kalau tim panther itu untuk tim yang malam hari melakukan patroli klithih, kalau ini memang saya bentuk tim khusus, dan dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres Sleman, saya juga sudah melaporkan ke Kapolda," ujar Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah, Selasa (4/2/2020).

Rizky menilai, jika aksi klithih yang terjadi di wilayah Sleman tidak memiliki pola khusus. Pelaku hanya melihat situasi saja. Ketika polisi sedang lengah, pelaku melancarkan aksinya.

"Pada waktu aksi klithih di wilayah Gamping, kita patroli sampai jam 2, dan aman aman saja, setelah kita akhiri patroli, pelaku malah beraksi, saya juga sampaikan ke anggota agar jangan kecil hati walaupun banyak kejadian ini (klithih), say yakin ini pelaku itu-itu saja," terangnya.

Kasatreskrim Polres Sleman AKP Rudy Prabowo mengatakan jika ia sudah menindaklanjuti perintah dari Kapolres Sleman terkait dengan tim khusus penanganan klithih dimana dirinya menjadi orang nomor satu di dalam tim khusus tersebut.

"Kami sudah bergerak satu sampai dua hari ini, apabila ada informasi terkait dengan aksi klithih, mohon disampaikan ke kami agar segera bisa diatasi," terangnya.

Rudy dan jawatannya juga sudah melakukan pemetaan terkait dengan daerah rawan aksi klithih khususnya Jalan Kabupaten yang sudah memakan dua korban.

"Terutama jalan yang sepi dan penerangannya juga minim, di situ kurang pengawasan dan sepi, kan mereka (pelaku klithih) bisa leluasa mengayunkan senjata tajamnya, semua jalan bisa menjadi berbahaya, kalau bisa lewat jalan besar atau protokol biar tidak jadi sasaran aksi klithih," terangnya.

Terkait dengan korban ojek online di Jalan Kabupaten pada Sabtu (1/2/2020) dinihari lalu, berdasarkan keterangan dari polisi korban masih tergeletak di rumah sakit menjalani perawatan. Korban menderita luka cukup parah di bagian wajah (pipi) sebelah kanan dan di punggung akibat sabetan benda tajam.

"Korban masih menjalani operasi, semoga bisa segera pulih biar kami bisa mendapatkan keterangan signifikan, namun kami sudah jalan untuk pengungkapan kasus, sampai hari ini kita sudah memeriksa lima saksi," tutupnya.