Perangi Klithih, Ini Wejangan dari GKR Hemas Ajak Siswa SMA/SMK se DIY

GKR Hemas saat memberikan Sosialisasi Pancasila kepada siswa SMA/SMK se DIY di Kraton Kilen Jogja, Sabtu (8/2/2020). - Ist/dok
09 Februari 2020 09:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Munculnya kasus kekerasan di jalan (klitih) yang melibatkan kalangan pelajar hingga isu banyaknya pelajar yang terpapar paham radikalisme harus disikapi dengan meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila.

Anggota DPD RI asal DIY, GKR Hemas mengatakan di tingkat nasional, pelajar di Jogja selalu menjadi perhatian karena kepandaian dan prestasinya, baik di bidang akademik maupun di bidang ekstra kurikuler. Beragam prestasi yang diraih pelajar Jogja bahkan membuat dirinya bangga.

"Mulai dari nilai Ujian Nasional yang begitu tinggi, prestasi dalam bidang robotik, penulisan karya ilmiah tentunya menjadi kebanggaan bagi saya. Itu artinya kalian memahami bahwa Jogja itu istimewa," katanya di sela kegiatan Sosialisasi Pancasila bersama siswa SMA/SMK se DIY di Kraton Kilen Jogja, Sabtu (8/2/2020).

Sayangnya, kata Hemas, belakangan ini selalu juga ada cerita yang berbeda tentang siswa di Jogja. Ada kekerasan di jalan (klitih), ada genk motor, ada tawuran yang melibatkan siswa. Dia berharap semua peristiwa negatif itu harus benar-benar dihilangkan. "Saya harapkan semua yang di sini bisa berpartisipasi untuk membuat semua hal negatif hilang sama sekali dari Jogja," katanya.

Munculnya beragam perilaku negatif di kalangan pelajar itu, mendorong Hemas untuk kembali menekankan pentingnya Pancasila. Hal itu sejalan dengan UUD 1945, prinsip NKRI dan juga Bhinneka Tunggal Ika. "Kita di sini boleh berbeda-beda asal orang tuanya, berbeda sukunya, berbeda bahasanya, tetapi tetap satu di dalam Bangsa Indonesia," katanya.

Prinsip Pancasila yang ada ssay ini, lanjut Hemas, sudah sangat bagus sehingga banyak menarik negara lain untuk ikut mempelajarinya. Seorang Peneliti, Professor Katrin Mac Gregor membuat penelitian tentang peran Pancasila di Era Reformasi ini. Sementara Professor Karel Stenbrink dari Belanda melihat secara lebih detail tentang bagaimana Pancasila terkait dengan kehidupan beragama di Indonesia.

"Saya prihatin ketika mengetahui ada sekitar 52% dari siswa SMA dan SMK yang mulai terpapar radikalisme. Begitu kata Menteri Agama kita. Agak membingungkan mengapa ada siswa yang merasa beragama Islam tetapi menolak Bhinneka Tunggal Ika, padahal banyak ulama besar di Indonesia tidak pernah bermasalah dengan ide ini," katanya.

Demikian juga dengan Pancasila dan NKRI yang menurut Hemas, justru merupakan hasil dari pemikiran ulama-ulama besar Indonesia. Saat ini pun mulai marak sikap sekelompok orang yang suka mengkafir-kafirkan orang lain, yang tidak sekelompok dengannya. Tentu saja, katanya, sikap tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Fenomena ini membuat Hemas sangat gelisah. Sebab di Indonesia banyak ulama yang berperan besar dalam pembentukan NKRI. Mereka melepaskan kepentingan agama dan kelompok, untuk bisa mendahulukan kepentingan negara dan bangsa Indonesia.

"Saya percaya Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Agama yang menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Saya percaya agama Islam mengajarkan prinsip wasatiyah, prinsip yang tidak ekstrim, yang tidak pernah berlebih-lebihan dalam beragama," papar permaisuri Sultan Hamengku Buwono X ini.

Dia berharap siswa-siswa di DIY mampu berpikir secara mandiri, melakukan penelitian dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Maka gunakanlah akal dan pikiran secara cermat, cari data sebanyak-banyaknya, belajarlah dari banyak guru agama, ustad, dan kiai yang terkenal, terutama dari NU dan Muhammadiyah," katanya.