DIY Puncaki Indeks Demokrasi 2025, Skor Tembus 89,79
IDI DIY 2025 tertinggi nasional dengan skor 89,79. Demokrasi Yogyakarta dinilai inklusif, stabil, dan berkualitas.
Siswa SDN Bangunrejo 2 belajar di pos ronda, beberapa hari lalu./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA—Setelah sebelumnya terpaksa harus mengikuti pelajaran tambahan di pos ronda lantaran bangunan sekolahnya direnovasi, siswa Kelas VI SDN Bangunrejo 2 kini sudah mendapatkan fasilitas ruangan yang lebih layak. Mereka kini memanfaatkan aula dekat kantin SDN Bangunrejo 1.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Jogja, Dedi Budiono, mengaku telah berkoordinasi dengan kedua sekolah itu untuk mencarikan solusi agar siswa tetap bisa mendapat fasilitas layak dalam kegiatan belajar, meski hanya untuk pelajaran tambahan. “Sekarang sudah lumayan representatif, meski lesehan, ada meja, papan tulis dan di dalam ruangan,” ujarnya, Senin (10/2/2020).
Dia mengatakan keputusan belajar di pos ronda merupakan inisiatif sekolah tanpa sepengetahuan dinas. Saat mendapati hal ini pihaknya langsung mencarikan alternatif terbaik. “Sementara solusinya seperti ini dulu, sembari nunggu proses pembangunan smeoga bisa tepat waktu, sehingga saat proses PPDB [Penerimaan Peserta Didik Baru] sudah bisa pindah semua,” ujarnya.
Selain itu, dinasnya juga akan menambahkan fasilitas berupa Guru Pendamping Khusus (GPK). SDN Bangunrejo 2 ini memang menjadi sekolah inklusi rujukan difabel di Jogja. Sebanyak 69 dari 81 muridnya merupakan difabel, sedangkan GPK hanya ada empat orang. “Kami cermati kebutuhannya seperti apa, di ULD [UPT Layanan Disabilitas] ada GPK cadangan tiga orang,” ujar dia.
Kepala SDN Bangunrejo 2, Subagyo, menjelaskan kegiatan belajar di sekolahnya memang harus dialihkan ke SDN Bangunrejo 1 sejak Februari 2019 lantaran gedung SDN Bangunrejo 2 sedang direnovasi. Proses renovasi yang semestinya selesai akhir tahun itu harus molor karena proses lelang digagalkan dan pada 2020 ini dikerjakan ulang dalam waktu enam bulan.
Lantaran SDN Bangunrejo 1 hanya memiliki enam kelas, maka jadwal belajar siswa kedua SD tersebut harus dibagi pagi dan siang hari. Untuk SDN Bangunrejo 2 mendapat jatah jam siang, yakni mulai pukul 12.00 WIB dan berakhir pada 17.00 WIB.
Jam Belajar
Khusus untuk siswa kelas VI, imbuh dia, memerlukan pelajaran tambahan yang dilaksanakan setiap hari sekolah selama sekitar 1,5-2 jam. Lantaran jumlah kelas di SDN Bangunrejo I terbatas, pihaknya terpaksa memanfaatkan pos ronda untuk pemberian pelajaran tambahan. Alhasil 19 siswa yang 17 di antaranya merupakan difabel pun harus belajar dengan kondisi yang serba terbatas.
Selain itu, pembagian jadwal pagi dan siang tersebut juga berimbas pada berkurangnya durasi pelajaran yang setiap pelajaran bisa berkurang sekitar 10 menit.
“SDN Bangunrejo 1 juga kena imbasnya. Mestinya jam belajar mereka berakhir 13.30 WIB, tetapi nanti siswa kami jadi cuma sebentar. Selain itu belajar di siang hari juga kurang optimal baik bagi pengajar maupun siswanya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IDI DIY 2025 tertinggi nasional dengan skor 89,79. Demokrasi Yogyakarta dinilai inklusif, stabil, dan berkualitas.
Film dokumenter Melania Trump jadi film terburuk 2026 dengan rating 1,6 IMDb. Simak daftar 9 film rating terendah sepanjang tahun ini.
WhatsApp tidak bisa kirim foto? Gunakan Telegram, Google Drive, atau Gmail sebagai alternatif untuk berbagi gambar dan dokumen dengan cepat dan aman.
Singapura debut jersey Adidas vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Simak 3 kekuatan The Lions dan duel kunci Hariss Harun vs Thom Haye.
Dishub Kulonprogo memperketat evaluasi fasilitas dan pelayanan di Terminal Ngeplang dan Terminal Brosot untuk meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi umum
Simak 10 rekomendasi mobil keluarga paling nyaman 2026, mulai Toyota Innova Zenix, Nissan Serena e-Power, Xpander, hingga Alphard lengkap dengan harga dan fitur