Kunjungi Harian Jogja, SMP Islam Ar Risalah Bantul Belajar Proses Produksi Berita

Para siswa dan pendamping dari SMP Islam Ar Risalah Bantul berfoto di halaman kantor Harian Jogja seusai kunjungan dalam rangka outing class, Senin (10/2/2020). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Sarsawati
10 Februari 2020 18:27 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - SMP Islam Ar Risalah Bantul melakukan pembelajaran di luar kelas atau outing class dengan mengunjungi kantor Harian Jogja, Senin (10/2/2020) sore. Sebanyak 29 siswa belajar seputar tata letak (lay out) koran dan juga proses pembuatan berita.

Dhiane Padhang Imeldawati selaku guru seni budaya SMP Islam Ar Risalah Bantul yang turut mendampingi kegiatan outing class tersebut menjelaskan saat ini sekolah belum memiliki kegiatan pembuatan mading atau majalah dinding sebagaimana sudah dilakukan di sekolah lain. Untuk itu, outing class ini bisa sebagai pemanasan sebelum kegiatan itu digelar di sekolah.

"Setelah [kunjungan] ini nanti, anak-anak [siswa] akan praktik membuat tulisan, semacam laporan. Bekal soal tata letak juga sudah diperoleh sehingga nanti bisa dipraktikkan," katanya ditemui Harianjogja.com di sela-sela kunjungan, Senin.

Menurut Imelda, anak-anak zaman sekarang penting untuk memiliki kemampuan menulis, terlebih menulis seputar seni dan budaya karena literasinya masih minim.

Ia menyayangkan adanya mahasiswa akhir yang hendak menulis tesis tetapi justru mendapatkan sumber penulisan dari luar negeri. "Karena di luar negeri ada literasinya,' katanya. Untuk itu, melalui kegiatan outing class ini para siswa bisa mendapatkan bekal seputar dunia penulisan.

Selama kunjungan ke kantor Harian Jogja, para siswa mendapatkan materi proses pembuatan berita dari Redaktur Harian Jogja, Bhekti Suryani. Ia menjelaskan bahwa berita dari media massa merupakan produk yang terpercaya karena diproduksi secara berlapis. Mulai dari penulisan oleh wartawan, dilanjutkan proses editing oleh redaktur, tata letak oleh layouter, hingga proses pencetakan.

"Media punya undang-undang sehingga kami [wartawan] tidak boleh sembarangan membuat berita. Kita ada kode etiknya. Wartawan terikat aturan sehingga berita yang diproduksi wartawan itulah yang bisa dikonsumsi," tutur Bhekti.

Ia mengimbau kepada para siswa untuk membaca berita dari media yang terpercaya. Hal itu dikarenakan maraknya hoaks yang berkembang saat ini.