Farohis: Pelaku Klithih Justru Lebih Takut dengan Warga Dibandingkan Aparat

Polisi menunjukkan terduga pelaku klitih dan beberapa barang bukti yang diamankan dalam jumpa pers pada Jumat (4/1/2019) di Polsek Ngaglik. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
11 Februari 2020 00:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Forum Antar-Rohis (Farohis) sebagai salah satu Forum Pelajar Jogja yang cinta damai menilai aksi klithih yang terjadi akhir-akhir ini di Jogja sangat merugikan banyak pihak. Aksi tersebut dapat dicegah manakala hukum ditegakkan secara tegas.

Ketua Farohis Jogja Yahya Abdul Azhiim mengatakan Farohis Jogja tidak sepakat dengan adanya aksi klithih yang merugikan dan semakin membuat resah masyarakat. Aksi klithih dapat dicegah melalui penegasan hukum yang berlaku.

Farohis Jogja mendesak akan dilakukan penindakan secara tegas kepada pelaku aksi klithih sesuai dengan kadar usia dari masing-masing pelaku. Farohis juga mendesak agar hukuman yang diberikan adalah hukuman yang berefek jera bagi pelaku.

"Ini dikarenakan para pelaku klithih itu tidak jera dengan adanya hukuman penjara, justru dipandang akan meningkatan kasta sosial mereka
ketika sudah bebas dari penjara," kata Yahya melalaui rilis yang diterima Harian Jogja, Senin (10/2/2020).

Selain itu, kata Yahya, diperlukan partisipasi masyarakat dalam meminimalisir aksi kejahatan jalanan ini. Beberapa pelaku klithih, katanya, justru lebih takut berhadapan dengan warga daripada dengan aparat. "Itu dikarenakan pelaku klithih beranggapan hukuman warga itu lebih mengerikan daripada aparat kepolisian," katanya.

Peran dari keluarga juga sangat penting untuk menekan kasus ini. Para orangtua, kata Yahya, diharapkan lebih memerhatikan anaknya terutama dalam masalah pergaulan. "Orangtua juga sebaiknya memberikan contoh yang baik kepada anaknya agar terhindar dari perilaku kekerasan," katanya.

Selain keluarga, Sekolah juga harus ikut andil dalam pencegahan klithih. Sekolah sebaiknya menanamkan pendidikan karakter yang baik dan lebih mengontrol pergaulan siswanya. "Jangan sampai ada sekelompok geng yang ingin berbuat aksi klitih tersebut. Sekolah harus ikut mencegah itu terjadi," katanya.

Farohis juga menolak segala upaya yang dilakukan oleh siapapun yang ingin menciptakan suatu kegaduhan atau ketidaknyamanan di wilayah DIY dan mendesak pelajar jogja untuk tidak melakukan aksi tidak terpuji tersebut. "Pelajar Jogja harus mampu memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat di
sekitarnya," katanya.

Faktor Klithih

Pengurus Farohis Jogja lainnya, Muhammad Farhan mengatakan ada beberapa faktor kasus klithih terjadi dalam beberapa hari terakhir di DIY. Penyebab antara lain, ada pengaruh yang kuat dari kelompok sepermainan geng ke arah perilaku kekerasan. "Pelaku juga ingin menunjukkan eksistensi diri agar keberadaannya lebih diakui. Faktor lain kurangnya penanaman nilai budaya dan moral dan norma sosial," katanya.

Di sekolah memang pelajar diberi pemahaman nilai-nilai keagamaan. Hanya saja nilai-nilai keagamaan yang diterima oleh pelaku baru pada sosialisasi dan belum sampai ke internalisasi atau penghayatan. "Penyebab lainnya adanya motif untuk balas dendam, dan dapat pula dikarenakan dari faktor keluarga," katanya.

Hana Fitria Zahidah, pengurus Farohis Jogja menegaskan jika dalam Islam membunuh orang yang tak bersalah itu sangat dilarang. Membunuh satu orang yang tak bersalah sama saja seperti membunuh manusia di seluruh dunia. Islam juga melarang manusia untuk berbuat keji.

Alasannya, aksi klithih juga menyebabkan seseorang terluka bahkan meninggal dunia, menimbulkan trauma berkepanjangan, membuat resah, merusak nama baik daerah, mencemari nama baik sekolah atau instansi lembaga, mencemari nama baik keluarga dan kerabat.

"Aksi klitih itu tidak hanya bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga telah mencoreng nama sekolah dan daerah. Sangat keji dan tidak terpuji," katanya.