Kawasan Pantai Selatan: Dulu Berjaya, Kini Kumuh dan Tidak Tertata

Kondisi Pantai Samas, di Desa Srigading, Kabupaten Bantul. - Harian Jogja/Arief Junianto
17 Februari 2020 08:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sebelum Pantai Parangtritis menjadi tenar, pantai yang paling ramai dikunjungi di Bantul adalah Samas. Pantai yang berlokasi di Dusun Ngepet, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul ini sempat menjadi primadona wisatanya pantai di Bantul. Namun kini pantai tersebut sepi, kumuh, dan lebih dikenal sebagai kawasan prostitusi.

Masdi Prayitno, 60, terlihat sedang membersihkan halaman masjid di kompleks Pantai Samas. Bersih-bersih tempat ibadah itu menjadi rutinitasnya sejak 2013 lalu. Sehari-hari Masdi berjualan minuman ringan di depan rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu persis di seberang masjid.

Masdi merupakan pria kelahiran Caturharjo, Pandak, Bantul. Ia sudah tinggal di Samas sejak 1984 atau sejak menikah dengan sitrinya Sutrimo, 60, yang merupakan asli Dusun Ngepet, tepatnya di pintu masuk kompleks Samas. Awalnya ia berjualan berbagai minuman ringan dan makanan di sekitar pantai. Bahkan dalam sehari ia bisa menghabiskan lebih dari 100 biji kelapa muda saat Samas ramai. “Sekarang lima bungkus es saja tidak mesti,” ucap Masdi, saat ditemui Harian Jogja, Senin (10/2/2020).

Masdi mengikuti betul perkembangan Samas. Pantai tersebut awalnya dibuka sejak sekitar 1975-an. Awalnya adalah gundukan pasir dan semak belukar. Namun sebagian kawasan digunakan untuk pembuatan garam. Sejak dibuka, Pantai Samas menjadi ramai pengunjung dan puncaknya 1980-an hingga 1990. Ribuan pengunjung dalam sehari, sampai-sampai ia kesulitan melayani pembeli.

Namun kondisi itu berubah 180 derajat. Saat ini, ia lebih banyak “menganggur” menunggu dagangan laku, sambil mengurus kebersihan rumah ibadah. Menurut dia, sepinya Samas terjadi sejak ada jembatan Kretek penghubung ke Pantai Parangtritis. Selain itu, Samas kini juga lebih sering dikenal prostitusinya ketimbang pantainya. “Orang kalau ditanya mau ke mana kalau menjawab mau ke Samas pasti konotasinya negatif apalagi di malam hari,” ungkap Masdi.

Saat ini, penghuni di Samas juga lebih banyak pendatangnya. Warga asli yang sudah tinggal puluhan tahun hanya sekitar 300-an yang dibagi dalam dua RT, yakni RT64 dan 65. Sebagian besar warga sekitar adalah nelayan dan petani yang menggarap lahan Sultan Grond (SG).

Soal nama Samas? Masdi tidak tahu pasti sejak kapan sebagian Dusun Ngepet tersebut dinamakan Pantai Samas. Namun berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, setidaknya ada empat sejarah penamaan Samas. Pertama adalah adanya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul. Hal itu ditandai dengan adanya pesanggrahan di sekitar kompleks Samas. “Setelah pertemuan raja dan ratu itu sang ratu pamit sampun mas, jadilah nama Samas,” kata dia.

Cerita kedua adalah kepanjangan dari sayange masyarakat. Maksudnya adalah sejak Samas ramai banyak muda mudi yang berlibur di Samas sehingga anak muda tersebut disebut kesayangannya masyarakat. Kisah ketiga, Samas merupakan kepanjangan Samudera Emas, karena Samas banyak menghasilkan pendapatan bagi warga sekitar mulai dari lautnya, pasirnya, hingga hasil bumi sekitar laut sehingga disebut Samudera Emas yang disingkat Samas.

Sementara nama Samas akhir-akhir ini dipelesetkan menjadi sampah masyarakat (Samas) karena saking kumuhnya dan lebih dikenal sebagai kawasan prostitusi, dan tempat minum-minuman keras. Sampai saat ini citra tersebut masih melekat pada Samas, sehingga menghalangi banyak wisatawan datang ke Samas. “Pernah ada tamu sudah pesan untuk mengadakan acara di Samas sebanyak 600 orang tapi saat perwakilan tamu datang melihat, langsung membatalkan kunjungan tersebut karena citranya negatif itu,” ungkap Masdi.

Citra Negatif

Mantan Ketua RT 64, Sadino mengatakan Samas saat ini kumuh dan kotor. Ia yang sudah puluhan tahun tinggal di Samas mengakuinya, bahkan bangunan rumah yang dikaveling-kaveling hampir berdempetan satu dengan yang lainnya menyulitkan warga untuk beraktivitas. Rumah-rumah tersebut dibangun sejak 1980-an. Kini rumah-rumah sudah banyak yang disewakan, sebagian digunakan untuk tempat hiburan.

Sadino awalnya juga membuka warung di pinggir pantai. Namun karena sepi pembeli, kini ia hanya fokus mencari ikan di laut. Ia menyatakan untuk pariwisatanya, Samas saat ini kalah dengan pantai lainnya yang baru bermunculan seperti Pantai Baru, Gua Cemara hingga Kuwaru yang berada di barat Samas.

Setiap akhir pekan banyak iring-ringan bus rombongan wisatawan yang melintas Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), tetapi hanya melewati depan Samas, lalu menuju pantai lainnya. “Tiap Sabtu-Minggu itu banyak bus di JJLS tidak ada yang mampir ke Samas,” kata dia.

Ia sepakat Samas perlu ditata. Ia sendiri sudah mengakui rencana penataan itu sejak beberapa tahun terakhir bahkan akan menjadi kawasa wisata internasional dengan nama Parangtritis II. Namun kejelasannya seperti apa ia belum mengetahui pastinya. Menurt dia, hampir semua warga sepakat ditata. “Yang tidak sepakat itu digusur. Kalau ditata dan dicarikan tempat lain tidak apa-apa,” kata dia.

Kepala Desa Srigading, Wahyu Widodo, mengaku terus berupaya mengilangkan citra negatif Pantai Samas. Wahyu ingin mengembalikan kejayaan Samas jauh sebelum adanya Parangtritis dengan momentum penataan oleh Pemda DIY yang menjadikan kawasan selatan menjadi pintu masuk DIY.

Upaya yang dilakukan pemerintah desa dan warga salah satunya dengan mendeklarasikan diri menuju Srigading Sejahtera dengan bertekad mengembalikan kawasan Samas sebagai kawasan bebas prostitusi, bebas sampah dan bebas minuman keras dan narkoba. Deklarasi diikrarkan pada Desember 2017, bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Desa Srigading.