PILKADES SLEMAN: Persaingan Suami-Istri, Kakak-Adik Hingga Ayah-Anak

Ilustrasi. - Solopos/Agoes Rudianto
20 Februari 2020 06:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Persaingan menjadi calon kepala desa pada pilkades, 29 Maret mendatang, juga diwarnai oleh calon yang memiliki hubungan emosional. Mulai suami istri, ayah dan anak hingga kakak bersaing dengan adiknya.

Pilkades di Desa Sidoagung, Godean misalnya kakak beradik maju bersaing memperebutkan kursi nomor satu di desa tersebut. Keduanya masing-masing Edy Utomo (incumbent) warga Gentingan Sidoagung dan Titi Sukatini warga Tumut Moyudan.

Berbeda dengan Sidoagung, di Margoluwih, Seyegan, suami istri juga menjadi kandidat untuk bersaing pada Pilkades. Mantan Kades Margoluwih Sunaryo akan menghadapi istrinya Supriyati untuk meraih suara warga.

Di Kepuharjo, Cangkringan, Animo Fajar Nugroho putera dari mantan Kades Kepuharjo Heri Suprapto siap bersaing dengan memperebutkan jabatan Kades. Terkait hal tersebut, Heri mempersilahkan puteranya untuk maju bersaing pada Pilkades Maret mendatang.

Meskipun sebelumnya tidak sampai terpikirkan anaknya ikut maju, namun Heri menyerahkan sepenuhnya kepada warga. "Ning yen kulo pengin gantos sing enom," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (19/2/2020).

Keberadaan persaingan Pilkades yang melibatkan hubungan keluarga tersebut diakui oleh Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Aparatur Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sleman Agung Endarto. Menurut Agung, dari sekitar 147 calon kepala desa yang mendaftar, ada beberapa kandidat yang lawannya justru berasal dari keluarganya sendiri.

"Hal itu tidak masalah. Sebab syarat minimal calon diperbolehkan dua orang. Jika syarat tersebut dapat dipenuhi, maka Pilkades bisa dilaksanakan," kata Agung.

Sebaliknya, kalau hanya terdapat satu kandidat yang mendaftar maka sesuai ketentuan panitia Pilkades harus memperpanjang masa pendaftaran. Beruntung, katanya, seluruh desa yang menggelar Pilkades tahun ini memenuhi syarat minimal pendaftaran calon. Total terdapat 19 desa yang jumlah pendaftarnya hanya dua kandidat.

"Ini sangat riskan. Kalau ada yang menarik pencalonan atau tidak lolos seleksi administrasi, maka pelaksanaan Pilkades bisa ditunda tahun depan sebab tidak boleh ada kandidat yang melawan kotak kosong," katanya.

Dinas juga masih menunggu hasil penetapan seluruh kandidat Kades di 49 desa pada 22 Februari mendatang. Terutama hasil seleksi administrasi kandidat Kades di enam desa. Meliputi Tirtomartani (Kalasan), Kalitirto (Berbah), Minomartani (Ngaglik), Wedomartani (Ngemplak), Sendangmulyo (Minggir) dan Sidomoyo (Godean).

"Di enam desa itu, kandidatnya lebih dari enam orang. Padahal maksimal hanya lima orang. Kalau seluruhnya lolos seleksi administrasi, maka mereka akan mengikuti seleksi tambahan untuk menyaring menjadi maksimal lima kandidat," katanya.