Tahun Ini, Gunungkidul Akan Tambah 9 Destana

Simulasi bencana alam, Selasa (3/4/2018). (Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara)
21 Februari 2020 08:47 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul berencana akan menambah 9 desa tangguh bencana (Destana) untuk tahun 2020. Hingga saat ini, sudah ada sebanyak 56 Destana yang tersebar diseluruh wilayah Gunungkidul.

Sembilan Destana itu meliputi Desa Giriharjo, Plembutan, Ngestirejo, Krambil Sawit, Nglanggeran, Salam, Pucung, Gedangrejo dan Sumberwungu, dengan rincian, lima destana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DIY dan empat dari APBD Gunungkidul.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul, Agus Wibawa mengungkapkan pembangunan Destana tersebut sesuai rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) masing-masing. Gunungkidul dengan menyasar wilayah rawan bencana, sedangkan DIY menyasar pesisir pantai selatan.

"Untuk Destana Gunungkidul menyepakati dalam membuat Destana dengan ancaman longsor. Kalau DIY konsentrasi ke pesisir selatan," kata Agus pada Kamis (20/2/2020).

Agus menjelaskan lima Destana yang berasal dari DIY akan mendapatkan bantuan sebesar Rp110 juta per desa, sedangkan empat Destana yang berasal dari Gunungkidul masing-masing desa akan mendapatkan bantuan sebesar Rp70 juta.

"Anggaran dari DIY jauh lebih tinggi karena standar harga barang dan jasa lebih tinggi, misalnya saja untuk transportasi, konsumsi dan lainnya," kata dia.

Nantinya, Agus menjelaskan masyarakat di masing-masing Destana akan mendapatkan beragam pelatihan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Selain itu, pembangunan rambu evakuasi, hingga warga akan diajarkan terkait simulai kebencanaan sesuai potensi bencana yang ada diwilayahnya.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan targetnya pada tahun 2022 mendatang, seluruh desa yang ada di Kabupaten Gunungkidul akan dijadikan Destana. Dengan harapan, agar seluruh desa sudah bisa mandiri dan tanggap terhadap bencana jika bencana datang.

"Tujuannya agar masyarakat bisa meminimalisir resiko terhadap bencana," tutup Edy.