Terowongan Ambles Belum Ditangani, Petani Sambiroto Khawatir Masa Tanam 2 Terganggu

Seorang petani mengamati amblesnya terowongan irigasi Bendung Tawang di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan, Rabu (4/3/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
05 Maret 2020 00:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Amblesnya terowongan irigasi Bendung Tawang yang terletak di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan beberapa waktu lalu membuat petani setempat khawatir pasokan air tidak mencukupi dalam menyambut masa tanam kedua (MT II) April mendatang.

Ketua Kelompok Tani Subur di Sambiroto, Sudaryono menuturkan ada 10 hektare lahan pertanian milik kelompok tani ini yang sedang ditanami padi saat ini terdampak berhentinya aliran irigasi lantaran terowongan ambles tertimpa longsoran tanah. Hingga saat ini tanaman padinya yang hampir memasuki masa panen pada akhir Maret mendatang tidak mendapat pasokan air dari saluran irigasi ini.

"Sebenarnya untuk MT I ini aman meski tidak teraliri, karena dari hujan masih cukup. Tapi untuk menghadapi MT II kami agak khawatir karena dimulai awal April," kata Sudaryono kepada Harianjogja.com, Rabu (4/3/2020).

Ia menuturkan selain Kelompok Tani Subur, ada beberapa kelompok tani lain di Nanggulan yang juga terdampak terhentinya aliran ini dengan kisaran luas lahan 10 hektare. Sementara, di luar wilayah Nanggulan seperti Pengasih dan Sentolo, ia tak mengetahui secara pasti luasan lahan terdampak.

Sebelumnya diberitakan bahwa pada Kamis (20/2/2020) lalu terjadi longsoran tanah yang menimpa terowongan irigasi Bendung Tawang di Sambiroto. Longsoran itu menyebabkan terowongan ambles sepanjang kurang lebih enam meter. Disinyalir lahan pertanian enam dusun di tiga kapanewon yaitu Nanggulan, Pengasih, dan Sentolo terdampak dari saluran irigasi yang terhenti ini.

Sudaryono berharap Pemkab Kulonprogo bisa bergerak cepat menangani hal ini sebelum memasuki MT II. Sebab awal April nanti ia pesimistis hujan masih turun di Kulonprogo. Jika terowongan tak segera tertangani, maka ia tak tahu akan mengairi sawah dengan air dari mana.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman Kulonprogo, Hadi Priyanto menuturkan ia sudah mengirim surat kepada Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) untuk permohonan penanganan amblesnya terowongan ini secara permanen.

Meskipun termasuk ke dalam kejadian bencana, hingga saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo belum melakukan penindakan semisal melakukan pengerukan tanah longsoran. "Kalau dengan BPBD hanya darurat saja, kita ingin sekalian permanen. Kewenangannya di BBWSO karena [irigasinya] masuk sistem Kalibawang," kata Hadi.

Dikatakannya, pada Senin (2/3/2020) kemarin jawatannya dengan BBWSO sudah mensurvei lokasi amblesnya terowongan tersebut dan mengukur luasan kerusakan. Setelah survei, Pemkab Kulonprogo diminta mengirim surat ke BBWSO untuk permohonan penanganan. Setelah surat ini diterima, BBWSO baru akan merapatkan penangannya.