Sultan Jogja Minta Belanda Kembalikan Naskah Kuno dan Barang Kerajaan Mataram

Raja Belanda Willem Alexander (kiri) disambut GKR Mangkubumi saat tiba di Regol Keben Kompleks Kraton Yogyakarta, Rabu (11/3/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
11 Maret 2020 15:32 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kerajaan Belanda diminta mengembalikan manuskrip kuno dan barang peninggalan Kerajaan Mataram.

Raja Kraton Jogja, Sri Sultan HB X mengapresiasi pengembalian keris milik Pangeran Diponegoro kepada pemerintah Indonesia, Selasa (10/03/2020).

Namun begitu, Sultan juga meminta kepada Kerajaan Belanda agar mengembalikan manuskrip-manuskrip kuno dan barang milik kerajaan Mataram lainnya.

“Kalau bisa tidak hanya (keris diponegoro) itu tapi juga naskah (manuskrip kuno) lain mungkin juga memungkinkan atau barang yang lain,” ungkap Sultan usai bertemu Raja dan Ratu Belanda Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima di Keraton Yogyakarta, Rabu (11/3/2020).

Menurut Sri Sultan HB X, pengembalian barang-barang milik Kerajaan Mataram, termasuk keris Pangeran Diponegoro sangatlah penting. Sebab benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah dan filosofi yang agung bagi orang Jawa.

Terkait penyerahan keris Pangeran Diponegoro kepada Presiden Joko Widodo alih-alih ke Kraton Yogyakarta, Sri Sultan mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Menurut Sri Sultan, yang terpenting adalah kembalinya keris tersebut ke Indonesia, karena keris tersebut termasuk benda-benda yang memiliki sejarah perjuangan Indonesia.

"Ya tidak apa-apa, yang penting (keris) kembali,” ungkap Sri Sultan.

Selama dua abad lebih, keris Kyai Nogo Siluman tersebut berada di Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda. Keris tersebut didapat pemerintah Belanda saat penangkapan Pangeran Diponegoro dalam perang besar antara tahun 1825 hingga 1830.

Keberadaan keris dengan corak emas bertahtakan kepala naga tersebut sempat menjadi teka-teki, berbagai spekulasi perampasan terhadap keris tersebut juga masih menjadi mister. Namun berdasarkan sejarah, Kolonel Jan Baptist Cleerens memberikan keris tersebut pada Raja Willem I pada 1831 sebagai hadiah.

Namun keris tersebut kemudian kembali ke pelukan Indonesia setelah Raja Belanda, Willem Alexander mengembalikannya ke Indonesia dalam rangkaian kunjungannya ke negara Indonesia.

Sumber : Suara.com