Harga Sejumlah Kebutuhan Pokok di Pasar Meroket

Ilustrasi. - Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
21 Maret 2020 03:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Sejumlah komoditas bahan pokok di kabupaten Sleman mengalami kenaikan harga seiring dengan kasus penyebaran Covid-19 di sejumlah wilayah di Indonesia termasuk di wilayah DIY. Oleh karena itu, langkah pembatasan bagi warga yang ingin membeli komoditas bahan pokok diambil oleh pemerintah.

Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan jika berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh jawatannya sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga diantaranya gula pasir, cabai merah dan bawang merah.

"Sedangkan beras masih terpantau stabil dan stok masih aman. Naiknya komoditas gula pasir disebabkan karena minimnya jumlah panen tebu di tahun 2019. Adapun sebabnya, karena faktor cuaca yang membuat jumlah panen turun sebesar 15 sampai 20 persen di tengah isu Covid-19 ini," ujar Mae Rusmi Suryaningsih, Jumat (20/3/2020).

Lebih lanjut, berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Mae dan jawatannya komoditas gula pasir meroket secara bertahap dimulai sejak akhir Februari kemarin. Semula harga gula pasir sebesar Rp14.643 menjadi Rp15.738 perkilogram di awal Maret. Pada minggu ketiga bulan Maret, gula pasir mengalami kenaikan harga hingga menyentuh Rp16.410 perkilogram.

Diakui Mae, kenaikan harga gula pasir memang kemudian mempengaruhi stok gula pasir di tahun 2020 ini yang membuat harga komoditas ini mengalami peningkatan.

"Penyebab utama dari kenaikan harga gula dikarenakan menurunnya produksi dan melambatnya masa panen karena faktor cuaca," ungkap mantan Sekretaris Disperindag Sleman ini.

Adapun, fenomena kenaikan sejumlah bahan pokok juga terjadi pada komoditas bawang merah. Berdasarkan catatan Mae dan jawatannya, pada bulan Maret komoditas bawang merah berada di kisaran harga Rp29.143 perkilogram.

Namun, pada minggu kedua di bulan Maret, harga bawang merah sudah melonjak Rp32.167. Bahkan, saat ini sudah menyentuh Rp33.667 perkilogramnya.

Tidak hanya gula pasir dan bawang merah, lanjut Mae, harga komoditas cabai rawit juga mengalami kenaikan. Saat ini, cabai rawit yang menjadi komposisi utama di dapur emak-emak tersebut sudah menyentuh angka Rp39.333. Kenaikan cabai rawit terbilang dratis dari harganya di awal bulan Maret sebesar Rp32.500 perkilogramnya.

"Penyebab naiknya komoditas cabai rawat; dilatarbelakangi sejumlah faktor. Di antaranya, distribusi yang tersendat karena imbas merebaknya virus korona, dan mundurnya masa panen karena faktor cuaca," ungkapnya.

Kendati demikian, kenaikan tidak terjadi pada komoditas beras, Mae menyebutkan harga bahan utama dari dapur warga Indonesia tersebut masih stabil. Walaupun di bulan Maret ini juga terjadi dampak wabah Covid-19. Harga beras berada di kisaran harga Rp16.000 perkilogramnya. "Stok beras di Bumi Sembada juga dijamin masih aman untuk beberapa bulan ke depan," imbuhnya.

Upaya regulasi pembatasan terhadap pembelian bahan pokok yang dilakukan oleh konsumen juga tetap diambil oleh Mae dan jawatannya walaupun beberapa stok bahan pokok masih aman. Upaya tersebut diambil menimbang perilaku sebagian masyarakat yang melakukan aksi borong bahan pokok karena panik (panic buying) seiring dengan adanya Covid-19.

"Kebijakan pembatasa pembelian ini sudah diberlakukan di berbagai supermarket yang ada di Sleman. Tiap konsumen hanya diberi batasan membeli beras maksimal 10 kilogram, gula pasir 2 kilogram, minyak goreng 4 liter dan mie instan hanya boleh 2 karton," tutupnya.