Hasil Panen Padi Hibrida di Gunungkidul Memuaskan

Ilustrasi Panen padi - JIBI
25 Maret 2020 20:27 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Kecamatan Semin mulai memanem padi sejak Senin (23/3/2020). Salah satu jenis benih yang dipanen oleh Kelompok Tani (Poktan) Mulyo, Dusun Garotan, Desa Bendung, yakni jenis hibrida. Hasil panen padi jenis ini sangat memuaskan, jauh dari padi varietas lokal.

Hasil ubinan yang diperoleh para petani bisa mencapai 6,1 kilogram atau 9,77 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, setara 8,45 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Padahal, ubinan padi varietas lokal seperti senggreng dan ciherang hanya berkisar tiga sampai lima kilogram.

"Hasil ini tertinggi dibanding padi lokal maupun padi inpari yang ditanam para petani sebelumnya," kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, Selasa (24/3/2020).

Padi jenis hibrida yang dipanen ini merupakan bantuan dari pemerintah untuk lahan seluas tujuh hektare. Tak hanya di Poktan Mulyo, hasil panen padi hibrida yang memuaskan juga diperoleh Poktan Tani Maju, Dusun Badongan, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, yang mulai panen pada pekan lalu. Para petani berhasil memanen padi hibrida dengan hasil sangat memuaskan. "Hasil ubinan Poktan Tani Maju mencapai 8,75 kilogram atau 14 ton GKP per hektare, setara 11,3 ton GKG per hektare," ujar Raharjo.

Selain menggunakan benih hibrida, hasil panen yang cukup tinggi diperoleh karena petani menerapkan sistem penanaman jajar legowo. Raharjo mengapresiasi hasil panen tersebut sebagai keberhasilan para petani di Bumi Handayani dalam mengadopsi teknologi baru. Harapannya, dengan penerapan teknologi ini selain mendapatkan pemasukan dari banyaknya hasil panen, para petani juga bisa menjadi petani yang maju, mandiri dan modern.

Kasi Produksi Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Adinoto, menjelaskan masa panen saat ini merupakan hasil penanaman benih padi bantuan pemerintah pada 2019 dalam periode masa tanam November hingga Desember 2019, sehingga masa panen dilakukan di 2020. "Luas penanaman padi hibrida bantuan pemerintah mencapai 2.000 hektare, selain itu masih banyak juga petani menanam padi hibrida secara swadaya," ujarnya.

Selain padi hibrida, petani juga menanam benih padi jenis Gogo seluas 500 hektare dan padi inbrida/non hibrida seluas 3.000 hektare yang merupakan bantuan pemerintah. Dengan adanya bantuan pemerintah berupa benih padi diharapkan bisa menaikkan produktivitas padi sehingga target produksi padi Gunungkidul bisa tercapai setiap tahunnya.

"Untuk satu tahun rata-rata target produksi kisaran 295.000 ton GKG dan di musim tanam pertama diharapkan bisa mencapai 237.930 ton GKG," katanya.