Pakar dari UGM Ingatkan Jangan Asal Semprot Disinfektan

Petugas gabungan Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Bantul, sedang menyemprotkan cairan disinfektan di Pasar Niten Bantul, Sabtu (21/3/2020) siang. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
30 Maret 2020 20:17 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjjogja.com, SLEMAN—Inisiatif warga menyemprotkan cairan disinfektan langsung ke tubuh seseorang ramai diperbincangkan di media sosial, menyusul merebaknya Covid-19. Hal ini dinilai berbahaya bagi kesehatan.

Organisasi kesehatan dunia, WHO Indonesia juga menyoroti hal ini. Di akun Twitter terkonfirmasi @WHOIndonesia, tertulis teguran bagi masyarakat Indonesia agar jangan menyemprotkan langsung disinfektan ke badan seseorang.

#Indonesia, jgn menyemprot disinfektan langsung ke badan seseorang, karena hal ini bisa membahayakan. Gunakan disinfektan hanya pd permukaan benda-benda. Ayo #LawanCOVID19 dgn tepat!” bunyi kicauan WHO Indonesia.

Kicauan tersebut pada Senin (30/3/2020) telah di-retweet sebanyak 11.900 kali dan disukai 8.000 warganet. Pernyataan WHO sejalan dengan pandangan pakar kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM tersebut membenarkan jika penyemprotan disinfektan langsung ke tubuh seseorang bisa berbahaya. Informasi dari WHO disebutnya harus selalu jadi acuan masyarakat. “Secara umum disinfektan diperlukan, hanya saja diperlukan di mana dan bagaimana caranya, itu yang jadi perhatian,” kata dia, Senin (30/3/2020).

Pengajar yang akrab disapa dokter Doni ini menerangkan jika penyemprotan disinfektan hanya diperlukan di permukaan benda yang sering disentuh atau benda yang digunakan bersama.

Penyemprotan di jalan raya atau mobil bahkan disebutnya sia-sia. “Sekarang lihat masyarakat menyemprot disinfektan di mana-mana, jalan disemprot, mobil disemprot, itu tindakan sia-sia. Virus Corona itu penularannya lewat droplet [percikan cairan saat bersin atau batuk] dan jatuh di permukaan berbagai macam barang, yang jadi sumber penularan adalah permukaan barang yang sering disentuh,” jelasnya.

Dikatakannya, cairan klorin pada disinfektan juga berbahaya bagi tubuh ketika disemprotkan langsung, karena bisa mengiritasi saluran lendir pada mata. Cairan itu tidak baik dari sisi kesehatan untuk jangka panjang.

“Itu [penyemprotan disinfektan ke tubuh] hanya menimbulkan rasa aman yang semu. Ketika dia [seseorang] disemprot tapi dia batuk, dia tetap bisa menularkan virus,” katanya. Hal ini dikarenakan seseorang yang disemprot disinfektan belum tentu bebas dari virus, sebab bisa saja virus itu sudah ada di tubuh orang yang bersangkutan. Doni menganjurkan masyarakat untuk tidak berlebihan menyemprotkan disinfektan, tetapi lebih mengutamakan menjaga kebersihan dan menjaga jarak fisik satu sama lain.