Tak Ada Pemasukan, UMKM di Sleman Terpaksa Liburkan Karyawan

Tulakir (kiri) mewarnai karya kerajinan tangan di rumahnya yang berada di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Kamis (2/4/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo\\n
02 April 2020 17:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sektor industri kecil menengah (IKM) dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sleman menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak akibat pandemi Covid-19. Sepinya order membuat produksi dari hampir sebagian besar IKM maupun UMKM banyak yang berhenti.

Perajin kerajinan tangan (handicraft) dari serat kaca asal Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Tulakir mengatakan jika ia harus menutup showroom kerajinan tangannya lantaran tidak adanya permintaan dari konsumen"Saya terpaksa menutup toko karena tidak ada pemasukan, jadinya hanya bisa memproduksi kerajinan tangan tetapi tidak bisa keluar karena banyak toko suvenir yang tutup. Biasanya hasil produksi saya edarkan ke toko toko cenderamata," ujar Tulakir kepada Harianjogja.com, Kamis (2/4/2020).

Alhasil, dia pun merumahkan 12 karyawannya karena dirinya sonder pemasukan imbas dari pandemi Covid-19 yang memang berpengaruh terhadap keberlangsungan sejumlah sektor industri besar maupun kecil. "Sejak dua pekan ini, anak anak [karyawan] sudah saya liburkan karena tidak ada pemasukan sama sekali. Daripada tidak ngapa-ngapain mending saya liburkan dulu menunggu situasi ini semakin kondusif dan produksi bisa berjalan lagi," ujar Tulakir.

Saat disinggung soal jumlah produksi harian yang bisa ia hasilkan sebelum pandemi, dia mengaku setiap pecan dia bisa memproduksi ribuan kerajinan tangan seperti asbak patung, miniatur Candi Prambanan, miniatur ikon suatu daerah, dan miniatur boneka Salman yang menjadi ikon Bumi Sembada.  "Dengan adanya pandemi tidak bisa produksi lagi, akhirnya hanya bisa produksi untuk stok saja," ucap dia.

Tulakir mengaku hasil kerajinan tangan karyanya banyak terpampang di toko-toko kerajinan tangan yang ada di Jalan Malioboro, Jogja. Tidak hanya di DIY, kerajinan tangan miliknya juga banyak merambah luar DIY seperti Jakarta, Bali, Sulawesi, dan Surabaya, Jawa Timur. “Kalau soal penurunan [pendapatan] mencapai 100 persen," ucap dia.

Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Dwi Wulandari membenarkan jika sektor industri kategori kecil dan menengah memang terkena dampak dari pandemi Covid-19.  "Hampir semua terdampak, bahkan kami belum mendata IKM sampai dengan Maret ini karena kegiatan pembaharuan data industri 2020 terhenti karena adanya pandemi Covid-19," ujar Wulan, Kamis.

Guna mengantisipasi penurunan omzet dinasnya juga terus mendorong agar pelaku industri kecil dan menengah mampu memproduksi sejumlah komoditas atau barang yang sangat dibutuhkan saat pandemi, di antaranya masker kain (nonmedis) dan hand sanitzer"Tak lupa, kami juga mendorong IKM agar mampu berinovasi dalam aspek pemasaran misalnya dengan memberikan diskon, paket paket menarik, free ongkir untuk jarak tertentu, serta mendorong industri yang mempunyai cukup banyak untuk mensinkronisasikan kepada industri kecil yang sejenis," ucap dia.