Petani Bendungan Uji Coba Tanam Padi Gunakan Teknik Mulsa

Plastik mulsa. - Antarafoto
03 April 2020 03:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Muda, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, saat ini tengah mengujicoba sistem tanam padi dengan cara baru, yakni memanfaatkan mulsa plastik yang biasa digunakan untuk menanam tanaman hortikultura.

Kelompok Tani Tunas Muda, memilih sistem mulsa, karena diyakini mampu menghemat biaya produksi dan menghasilkan panen yang lebih melimpah.

"Ini lebih ngirit biaya, karena proses produksi yang biasanya dilakukan oleh delapan orang dapat dihemat menjadi empat orang dan tanpa olah tanah. Sistem mulsa juga menghemat biaya, tidak tergantung pada traktor, hemat dalam penyiangan dan waktu pemupukan dan perawatan," kata Ngadirin, anggota Kelompok Tani Tunas Muda, Kamis (2/4/2020).

Uji coba teknik ini telah dilakukan sejak masa tanam pertama (MT 1) awal tahun ini di lahan pertanian seluas 3.500 meter persegi di Kalurahan Bendungan. Lahan itu sebelumnya digunakan untuk menanam cabai pada MT 3 tahun lalu. Sehingga bekas mulsa yang digunakan dalam penanaman cabai dimanfaatkan kembali untuk budidaya padi.

"Jadi kami masukkan benih padi di lubang-lubang mulsa, konsepnya seperti kalau kita menanam cabai," ujar Ngadirin.

Satu lubang berisi satu batang benih padi berjarak 40 cm‎ dengan pola jajar legowo. Pemupukan juga dilakukan di dalam mulsa.

Teknik ini ternyata mendapat perhatian ‎Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo. Kepala Disperpangan, Aris Nugraha mengaku sudah melakukan pengecekan di lapangan. Ia menilai, pertumbuhan padi yang ditanam dengan sistem mulsa sangat memuaskan. Sebab setiap batang bisa tumbuh 40 rumpun.

Saat ini, Disperpangan Kulonprogo masih menunggu panen padi yang dihasilkan sistem tersebut. Dengan kondisi saat ini, Aris memperkirakan, produktivitas padi akan baik.‎ Ia juga menyebut, ada sejumlah keunggulan tanam padi sistem ini, di antaranya hemat biaya produksi dan bebas hama.

"Petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa traktor. Selain itu, biaya pemeliharaan tanaman juga lebih hemat karena tidak membutuhkan penyiangan. Sistem ini juga bisa membuat tanaman padi tumbuh tanpa gulma lantaran tertutup mulsa," ujarnya.

‎Aris mengatakan pihaknya, akan segera melakukan pengkajian dan pebandingan dengan sistem biasa. Analisa dilakukan hingga masa panen, pertengahan April. Jika sistem ini lebih menguntungkan, Disperpangan akan menyebarluaskan teknik ini untuk diterapkan semua petani terutama yang menggunakan pola tanam padi-padi-cabai di Kulonprogo.