Mahasiswa UGM Akan Dampingi Warga Pantau Pemudik

Iustrasi Universitas Gadjah Mada. - Ist/ Dok UGM
07 April 2020 05:37 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sebanyak 60 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ditempatkan untuk mendampingi warga dusun memantau kedatangan pemudik. Kehadiran mereka dibutuhkan untuk memberi edukasi terkait pencegahan penularan Covid-19.

Direktur Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Irfan D. Prijambada, menuturkan bahwa sejak awal Maret 2020, UGM telah menempatkan 60 mahasiswa KKN di 28 dusun di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo. Namun, lantaran penularan Covid-19 meluas, Irfan menarik mahasiswanya dari lokasi KKN.

"Baru satu minggu lalu kami tarik. Tapi kemudian saya minta mereka membantu di desa-desa, apakah warganya itu sudah paham betul terkait Covid-19. Sebab masa KKN mereka sampai 30 April," kata Irfan pada Senin (6/4/2020).

Puluhan mahasiswa itu terdiri dari 28 mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) dan 32 mahasiswa fakultas lain. Meski begitu, pendampingan tak hanya sebatas edukasi dari sisi medis, karena seluruh mahasiswa telah diberi pembekalan. Di 28 dusun itu, akan ada satu sampai dua mahasiswa yang mendampingi warga.

Dijelaskan Irfan, pendampingan mahasiswa UGM kepada masyarakat berkaitan dengan edukasi Covid-19 ini tidak perlu terjun langsung dan berkumpul bersama warga, melainkan cukup berkoordinasi dengan kepala dusun setempat. Ia berharap mahasiswa bisa memberi edukasi pada warga terkait pencatatan pemudik di dusun.

"Yang pertama ya perlu kula nuwun dulu, utarakan maksud, lalu setelah itu bisa pakai e-mail atau Whatsapp saja edukasinya, tidak perlu ikut kumpulan RT," terangnya. Meski begitu, jika mahasiswanya terlanjur pulang ke kampung halaman, maka mereka ditugaskan memantau dusun masing-masing.

Ia berharap melalui program ini, mahasiswanya bisa tetap berkontribusi dengan masyarakat, terlebih di situasi seperti ini. "Ini saatnya rakyat bantu rakyat," katanya. Sebab, dirasa ada sejumlah praktik di masyarakat yang kurang tepat, seperti penyemprotan disinfektan pada tubuh manusia dan penolakan jenazah pasien positif Covid-19. Belum lagi dengan adanya pemudik di dusun yang harus dipantau untuk melakukan isolasi mandiri.

Setelah 60 mahasiswa ini berhasil mendampingi masyarakat, untuk KKN periode bulan Juni mendatang, Irfan akan melakukan metode serupa. Ia akan mendata sekitar 5.000 mahasiswa yang akan KKN pada periode itu untuk bersedia menjalankan program tersebut atau berkenan diundur masa KKN-nya.

Sementara itu, Dekan FFKMK UGM, Profesor Ova Emilia menuturkan pendampingan ke masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan mahasiswa dari kalangan medis saja. "Semua, sebab edukasinya bersifat umum dan mereka dilatih dulu," katanya.

Ia berharap dengan ini mahasiswa dapat memberdayakan pemuda lokal supaya penularan virus ini bisa ditekan. Ova juga menuturkan ke depannya tidak hanya UGM yang akan dilibatkan untuk program ini, melainkan akan menggandeng kampus lainnya.