Penurunan Limbah Hotel Capai 85%

Ilustrasi - limbahb3.blogspot.com
05 Mei 2020 00:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Limbah hotel yang ada di kabupaten Sleman mengalami penurunan drastis selama pandemi Covid-19. Penurunan mencapai angka 85%. Okupansi yang menurun secara signifikan dan nihilnya tamu menjadi musabab limbah yang menurun.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan limbah atau sampah yang saat ini diproduksi oleh hotel-hotel tersebut kebanyak sampah organik. Bahkan, penurunan mencapai angka 85%.

"Aktivis sejumlah besar hotel yang memang tidak ada tamu yang datang dan juga sampai ada yang ditutup memang berdampak signifikan terhadap produksi limbah yang dihasilkan oleh hotel-hotel yang ada di kabupaten Sleman. Bahkan, hotel-hotel bintang lima juga penurunannya signifikan," ujar Dwi, Senin (4/5/2020).

Lebih lanjut, limbah yang biasanya dihasilkan oleh sejumlah hotel sebelum adanya pandemi Covid-19 berupa limbah rumah tangga. Hotel yang cenderung sepi akhirnya hanya menghasilkan limbah berupa limbah organik yang berasal dari tanaman yang ada di sekitar hotel.

"Hotel-hotel tersebut saat ini hanya menghasilkan limbah sebanyak 15 persen rerata, sampah yang dihasilkan juga berasal dari pohon atau tumbuhan yang ada di sekitar hotel," ujar Dwi sapaan akrab Dwi Anta Sudibya.

Namun demikian, menurunnya limbah sampah hotel tidak dibarengi dengan menurunnya limbah dari sektor kesehatan. Limbah medis diprediksikan akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Contohnya, limbah alat pelindung diri (APD) dan masker.

"Namun, untuk limbah medis tersebut sudah ada prosedur pengelolaanya. Limbah medis apalagi untuk penanganan Covid-19 merupakan limbah yang bersifat infectious. Jenis limbah ini sudah memiliki prosedur tersendiri dalam pengelolaannya oleh masing-masing rumah sakit," jelasnya.

Ia juga tidak menampik limbah medis yang diproduksi oleh rumah tangga seperti masker juga akan mengalami peningkatan. Upaya untuk melakukan prosedur penanganan pembuangan masker yang semestinya dilakukan juga diharapkan untuk dilakukan oleh masyarakat.

Adapun, limbah masker diharapkan untuk dihancurkan terlebih dahulu sebelum dibuang, bisa dihancurkan dengan digunting-gunting atau dengan metode lainnya.

"Pasalnya, kalau tidak dihancurkan bisa disalahgunakan dengan oknum warga atau dijual oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Pembuangannya juga harus di tempat sampah. Jangan di sembarang tempat," terangnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo sebelumnya menyatakan adanya pandemi Covid-19 memang sangat berdampak pada usaha perhotelan.

Pada awal April saja, lanjut Deddy, sekitar 60% dari 496 hotel dan restoran kini tidak lagi kedatangan tamu.

Adapun, terkait dengan operasional hotel, Deddy nenyebut sebagian tetap ada yang dijalankan oleh karyawan, di antaranya pengelolaan properti dan perawatan taman hotel. "Sistemnya dengan membagi shift karyawan hotel, jadi selama 15 hari dalam sebulan," tutupnya.