JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul Bakal Punya Rest Area, Jadi Tempat Wisata
JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul ditargetkan dibuka September 2026. Kawasan ini diwacanakan memiliki rest area, UMKM, dan gardu pandang.
Ilustrasi Panen padi/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mendata luas lahan tanaman padi di masa tanam kedua mengalami penyusutan. Berkurangnya petani yang menanam padi tidak lepas dari kondisi geografis yang didominasi lahan kering sehingga banyak petani beralih menanam palawija.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan lahan yang ditanami padi di masa tanam kedua seluas 8.748 hektare. Jumlah ini berkurang dibandingkan dengan area penanaman di masa tanam pertama yang mencapai 48.508 hektare. “Ada pengurangan signifikan, tetapi tidak menjadi masalah,” kata Raharjo, Kamis (28/5/2020).
Menurut dia, berkurangnya lahan untuk menanam padi merupakan hal yang lumrah. Terlebih lagi, kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi lahan kering membuat petani berpikir ulang untuk menanam padi karena ketersediaan air yang berkurang. “Gunungkidul didominasi lahan tadah hujan. Jadi, saat curah hujan berkurang maka ada pergantian jenis tanaman yang ditanam oleh petani,” ungkapnya.
Raharjo menuturkan di masa tanam kedua petani banyak menanam kedelai hingga kacang tanah. Sebagai contoh, lahan tanaman kacang tanah di masa tanam pertama mencapai 14.626 hektare, tetapi di masa tanam kedua meningkat menjadi 38.703 hektare. “Jadi sudah menjadi kebiasaan petani pada musim tanam kedua tanamannya lebih variatif dan tidak lagi didominasi padi,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi tanaman secara keseluruhan di masa tanam kedua, Raharjo mengakui tidak ada laporan tanaman yang mati. Hasil pemantauan dari tim lapangan dilaporkan bahwa tanaman mulai dari padi, kedelai, jagung, kacang tanah dapat tumbuh dengan subur. “Tanaman tumbuh dengan baik dan mudah-mudahan saat panen hasilnya juga baik,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Sedyo Mulyo Dusun Pangkah, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Sukaji, mengatakan di masa tanam kedua petani lebih siap karena mendapatkan bantuan sumur bor dari pemerintah sehingga dapat dimanfaatkan untuk pemeliharaan. Kondisi berbeda terjadi di tahun lalu, akibat musim kemarau yang datang lebih cepat membuat puluhan hektare lahan milik petani menjadi kering. “Kalau sekarang sudah ada sumur bor. Jadi, masih ada air yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman. Mudah-mudahan hasilnya bisa baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JJLS Kelok 23 Gunungkidul-Bantul ditargetkan dibuka September 2026. Kawasan ini diwacanakan memiliki rest area, UMKM, dan gardu pandang.
Google dikabarkan akan memindahkan seluruh produksi Pixel, smartwatch dan earbud dari China mulai 2027. India dan Vietnam menjadi basis baru.
Penelitian Berkeley Lab menemukan atap mobil perak bisa 25 derajat Celsius lebih dingin dari mobil hitam. Simak pengaruh warna terhadap panas kabin.
Ini daftar 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes berdasarkan data real-time per 31 Agustus 2026, dari Low Tuck Kwong hingga Theodore Rachmat.
TK Negeri Gedangsari senilai Rp1,1 miliar belum dilelang. Dokumen masih direview dan harga material perlu disesuaikan.
CEO Coinbase Brian Armstrong mengkritik filantropi dan mengaku tak tertarik membuat yayasan. Ia menilai banyak lembaga amal dipengaruhi ideologi.