Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Ilustrasi Panen padi/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mendata luas lahan tanaman padi di masa tanam kedua mengalami penyusutan. Berkurangnya petani yang menanam padi tidak lepas dari kondisi geografis yang didominasi lahan kering sehingga banyak petani beralih menanam palawija.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan lahan yang ditanami padi di masa tanam kedua seluas 8.748 hektare. Jumlah ini berkurang dibandingkan dengan area penanaman di masa tanam pertama yang mencapai 48.508 hektare. “Ada pengurangan signifikan, tetapi tidak menjadi masalah,” kata Raharjo, Kamis (28/5/2020).
Menurut dia, berkurangnya lahan untuk menanam padi merupakan hal yang lumrah. Terlebih lagi, kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi lahan kering membuat petani berpikir ulang untuk menanam padi karena ketersediaan air yang berkurang. “Gunungkidul didominasi lahan tadah hujan. Jadi, saat curah hujan berkurang maka ada pergantian jenis tanaman yang ditanam oleh petani,” ungkapnya.
Raharjo menuturkan di masa tanam kedua petani banyak menanam kedelai hingga kacang tanah. Sebagai contoh, lahan tanaman kacang tanah di masa tanam pertama mencapai 14.626 hektare, tetapi di masa tanam kedua meningkat menjadi 38.703 hektare. “Jadi sudah menjadi kebiasaan petani pada musim tanam kedua tanamannya lebih variatif dan tidak lagi didominasi padi,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi tanaman secara keseluruhan di masa tanam kedua, Raharjo mengakui tidak ada laporan tanaman yang mati. Hasil pemantauan dari tim lapangan dilaporkan bahwa tanaman mulai dari padi, kedelai, jagung, kacang tanah dapat tumbuh dengan subur. “Tanaman tumbuh dengan baik dan mudah-mudahan saat panen hasilnya juga baik,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Sedyo Mulyo Dusun Pangkah, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Sukaji, mengatakan di masa tanam kedua petani lebih siap karena mendapatkan bantuan sumur bor dari pemerintah sehingga dapat dimanfaatkan untuk pemeliharaan. Kondisi berbeda terjadi di tahun lalu, akibat musim kemarau yang datang lebih cepat membuat puluhan hektare lahan milik petani menjadi kering. “Kalau sekarang sudah ada sumur bor. Jadi, masih ada air yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman. Mudah-mudahan hasilnya bisa baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.