UU Keistimewaan DIY Hampir Sewindu, Sejumlah Acara Digelar

Keistimewaan DIY. - Harian Jogja
10 Juni 2020 16:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY genap barusia delapan tahun atau sewindu pada Agustus mendatang. Sejumlah kegiatan digelar mulai April lalu dan puncaknya pada 31 Agustus mendatang.

Ketua Panitia Peringatan Sewindu UUK DIY Komunitas Peduli Pariwisata dan Jejarong Keistimewaan Jogja, Tazbir Abdullah, menjelaskan sebelum puncak peringatan, terdapat sebanyak dua kali pre event dengan pemasangan patung di lobi Paniradya, Kepatihan.

"Pre event pertama pada April lalu. Karena momennya Hari Kartini, kami memamerkan patung Kartini. Lalu sekarang karena bulan lahirnya pancasila, maka kami menampilkan patung burung Garuda Pancasila," ujarnya dalam pre event peringatan Sewindu UUK DIY, di Kepatihan, Rabu (10/6/2020).

Pada puncak peringatan nanti akan terdapat lima kegiatan, yakni peringatan itu sendiri, pameran karya, peluncuran beberapa buku, kegiatan pendidikan dan pariwisata. Kegiatan ini akan digelar di Perpustakaan Daerah Grahatama Pustaka.

Dalam leringatan ini, pihaknya hendak menyampaikan jika keistinewaan DIY bukan saja untuk bakti kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tapi juga untuk masyarakat DIY. "Akan ada dialog dan lainnya, sebagai penguatan keistinewaan agar lebih bermanfaat untuk warga DIY," ungkapnya.

Seniman yang membuat patung Garuda Pancasila, Yusman, menjelaskan patung ini merupakan patung tiga dimensi karyanya sendiri. Patung berbahan fiberglass setinggi 3 meter dan selebar 3 meter ini ia buat pada 2017 silam.

Patung serupa juga pernah ia buat dan dipasang di beberapa titik perbatasan Indonesia seperi NTT dan Irian, yang diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. "Kami buat tiga dimensi karena peletakannya di taman," ujarnya.

Pihaknya akan terus menampilkan patung berkaitan dengan sejarah Jogja dan Indonesia, seperti pada tahun 1948 dan 1949 ketika Jogja menjadi ibu kota RI. Pada Agustus nanti, ia jiga akan menampilkan patung Sukarno saat membacakan proklamasi, didampingi Bung Hatta.

"Tugas kami sebagai seniman untuk mengedukasi masyarakat. Kalau ini tidak ditampilkan, sejarah kita bisa tergerus budaya luar. Kami tidak mau seperti itu, karena kita lahir dari sejarah masa lalu," ungkapnya.