Kakek 90 Tahun di Jogja Gagal Naik Haji: Tetap Bersabar meski Sudah Menabung & Latihan Berjalan Jauh Belasan Tahun

Mitrohartono Jomo Kartowiyono - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
19 Juni 2020 11:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Butuh 18 tahun bagi Mitrohartono Jomo Kartowiyono menabung hari demi hari, mengumpulkan uang untuk pergi haji. Harto, begitu tetangga memanggilnya, butuh sepuluh tahun mencelengi uang muka, sementara delapan tahun untuk melunasi. Setelah belasan tahun menunggu, giliran pria berusia 90 tahun itu tiba tahun ini. Namun, dia mesti terima. Pandemi membuatnya harus menunggu lebih lama. Ibadah haji ditiadakan.

Harto sedang menonton televisi di rumahnya, Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja, Selasa (16/6/2020). Dari jarak kurang lebih semeter, Harto memakai kacamata hitam penuh lubang sambil menatap layar. Jenis kacamata pinhole glasses biasanya digunakan untuk terapi rabun jauh atau rabun dekat. Pendengaran Harto begitu baik. Begitu pintu rumahnya diketuk, Harto bergegas membuka pintu.

BACA JUGA: Kisah Ratusan Pekerja Pabrik Daging di Jerman yang Terinfeksi Corona

Di usianya yang nyaris seabad, fisik Harto masih prima. Cara jalan kakek yang telah memiliki delapan cucu dan enam cicit itu tak terlihat gontai sama sekali. Saat mengobrol, dia mengungkapkan salah satu resep kesehatan.  Berjalan kurang lebih 1,4 kilometer setiap hari, keliling mengitari kampung.

Jarak tersebut telah masuk hitungannya, kurang lebih seperti jarak salah satu rukun haji, pulang pergi tujuh kali dari Safa ke Marwa.

“Kalau sai itu kan tujuh kali, jarak tempuhnya sekitar 200 meter, kalau dikali tujuh pas 1,4 kilometer, sudah saya kira-kira, jaraknya pas dengan rute jalan kaki pagi saya,” terangnya.

BACA JUGA: Cegah Penyebaran Covid-19, Ini Daftar Pasar Kulonprogo yang Perlu Diwaspadai

Memang sungguh-sungguh tekad Harto ingin pergi haji. Dia sudah berlatih jalan jarak jauh agar kuat sejak awal 2000, padahal ia baru mendaftar haji di 2012.

“Alhamdulillah masih sehat, tidak perlu kursi roda.”

Selain jalan kaki teratur, kebugaran Harto tercetak dari ketekunannya menjadi tukang kayu. Pria kelahiran 1930 itu sudah menukang lebih dari 50 tahun. Awalnya dia tukang kayu untuk membangun rumah sejak 1960. Harto kemudian istirahat pada 1988 saat umurnya 58 tahun. “Sudah tidak kuat kalau kudu manjat-manjat kerangka bangunan,” katanya sambil tertawa.

BACA JUGA: Covid-19 di AS dan Brasil Terus Menanjak, Kasus Global Capai 8,42 Juta

Selepas itu, ia hanya  menggarap berbagai berbagai perabot kayu dan beberapa bagian bangunan, misalnya kusen, yang tidak menuntut keahlian memanjat.

“Kursi, meja, pintu, atau jendela masih bisa, asal garapnya bisa klesotan saya masih mampu.”

Hingga sekitar 2018 Harto masih menerima beberapa pesanan perabot dari tetangga sekitar.

Walau tak menentu, upah dari menukang inilah cikal bakal tabungan haji. Harto harus cermat karena menurut dia, dalam sebulan paling-paling ia dapat penghasilan sekitar Rp500.000 bila sepi. Uang tersebut pun masih harus ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA: Penyelenggara dan Pengawas Pilkada Akan Dirapid Test

Untuk naik haji, setiap orang Indonesia setidaknya perlu membayar sekitar Rp36 juta. Rp25 juta dibayar saat mendaftar sebagai uang muka, sisanya harus dilunasi sampai sebelum keberangkatan. “Ternyata saya sudah nabung sampai Rp40 juta, ya syukur sisanya bisa buat sangu.”

Jerih payahnya seharusnya bisa dia nikmati tahun ini saat umurnya menginjak 90 tahun. Harto sudah mendapat giliran berangkat ke Mekah, tercatat sebagai calon haji tertua dari Kota Jogja. Namun, pandemi Corona menunda keinginannya, setidaknya setahun lagi. Kementerian Agama menangguhkan perjalanan haji sampai Covid-19, penyakit yang sudah membunuh lebih dari 450.000 orang di seluruh dunia, bisa diatasi.

Calon haji yang keberangkatannya ditunda tahun ini boleh mengambil Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (Bipih) sebesar  Rp11 juta. Namun, Harto tak tertarik dan tetap bersabar.

BACA JUGA: PPDB Online, Sekolah Belum Berencana Lakukan Survei Tempat Tinggal Calon Siswa

“Kalau diambil juga mau dipakai apa. Kabeh niku kersane Gusti Allah [Semua terjadi karena kehendak Tuhan]. Haji kan panggilam dari Gusti Allah, kalau memang belum waktunya dipanggil meski sudah gilirannya berangkat ya enggak berangkat, kebetulan ada acara [pandemi], kalau memang sudah waktunya berangkat ya berangkat gampang banget,” kata dia.

Kula ora duwe rasa pie pie, ora gersula lillahi ta'ala [Saya tidak mengeluh atau kecewa].  Sudah dijelaskan dalam agama ,bisa naik haji kalau tempatnya aman, kendaraannya aman, dan sehat, kalau tempatnya tidak aman, ya enggak diwajibkan haji. Uangnya biar di sana saja [Kemenag], saya butuhnya besok bisa berangkat.”

Keberangkatan yang tertunda malah bisa jadi berkah buat Harto. Anaknya baru dua tahun lalu mendaftar haji. Sementara, percepatan haji khusus untuk menemani lansia minimal setelah tiga tahun pendaftaran.

“Ya mungkin karena ditunda ini, tahun depan anak saya pas tiga tahun mendaftar jadi bisa menemani saya,” ujar Harto semringah.