2 PMI Asal DIY Meninggal, Ahli Waris Dapat Santunan

Kepala BPJamsostek Cabang Jogja Ainul Kholid menyerahkan secara simbolis santunan jaminan kematian bagi ahli waris Dimas Yuda Pratama. - ist/BPJS.
27 Juni 2020 15:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJamsostek) Cabang Jogja menyerahkan santunan kepada ahli waris dua orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal DIY yang meninggal dunia pada Mei lalu.

Kepala BPJamsostek Cabang Jogja Ainul Kholid mengatakan dua orang PMI asal DIY meninggal dunia pada Mei lalu. Keduanya, masing-masing Dimas Yuda Pratama warga Jogja meninggal dunia di Brunei Darussalam dan Wahyu Ardani warga Bantul yang meninggal di Malaysia.

"Kami sudah menyerahkan santunan jaminan kematian bagi kedua ahli waris PMI melalui rekening bank. Masing-masing ahli waris mendapatkan santunan sebesar Rp85 juta," kata Ainul, melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Sabtu (27/6/2020).

Dijelaskan Ainul, santunan yang disampaikan BPJamsostek bukan merupakan bantuan tetapi kewajiban yang harus ditunaikan oleh lembaganya. "Kami hanya menyerahkan hak (jaminan kematian) bagi peserta tanpa potongan apapun. Ini sebagai tugas dan tanggungjawab kami agar segera menyelesaikan persyaratan dan menyerahkan santunan," ujar Ainul.

Meskipun besaran santunan yang diberikan tidak akan sebanding dengan duka keluarga yang ditinggalkan, dia berharap santunan yang diterima dapat dimanfaatkan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. "Kami berharap juga baik para pekerja maupun pemberi kerja memahami pentingnya perlindungan sosial ketenagakerjaan," katanya.

Santinem, ibu dari almarhum Dimas berterima kasih kepada BPJamsostek yang telah memberikan hak-hak anaknya sebagai peserta. Dimas, katanya, bekerja di Brunei Darussalam sejak sembilan bulan lalu. Sebagai chef di salah satu restoran. "Dimas, sakit mendadak sempat dirawat di rumah sakit sebentar namun meninggal pada 27 Mei lalu," kata Tinem.

Ayah Dimas, Sulistyanto mengatakan selama bekerja di negeri orang, Dimas rutin mengirim gajinya untuk keluarga. Dimas, lanjut Sulis, bertekad untuk membahagiakan keluarga termasuk menjaga asa adik-adiknya untuk bisa terus melanjutkan pendidikannya.

"Selama ini dia supel dan banyak temannya. Seharusnya Dimas pada September nanti dia wisuda. Tetapi Tuhan berkehendak lain," kata Sulis.