Kapan New Normal Diterapkan di DIY? Ini Jawaban Sultan

Gubernur DIY Sri Sultan HB X (tengah). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
02 Juli 2020 14:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penerapan tata kehidupan baru (new normal) di masa pandemi Covid-19 di DIY belum jelas.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyebut new normal belum tentu diterapkan Agustus nanti karena tergantung perkembangan selama sebulan ke depan.

Sultan menyebut tren kasus positif Covid-19 di DIY masih cukup fluktuatif. Ia pun tidak ingin tergesa-gesa menerapkan new normal. Pembukaan sektor pariwisata dan perbelanjaan menjadi bahan uji coba untuk melihat kecenderungan penambahan kasus Covid-19. “Kami lihat kondisi pada hotel, rumah makan, objek wisata. Membahayakan atau tidak tidak,” kata dia.

BACA JUGA: Pengunjung Diminta Waspada, Serangan Ubur-Ubur Diprediksi Terjadi hingga Agustus

Hingga Rabu (1/7/2020), 314 kasus positif Covid-19 ditemukan di DIY, Sebanyak 264 pasien telah sembuh. Sementara, Pemda DIY memperpanjang status masa tanggap darurat yang semestinya berakhir 30 Juni menjadi sampai 31 Juli. Salah satu pertimbangannya adalah belum tingginya tingkat kepatutah masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan.

Kendati masa tanggap darurat diperpanjang, Sri Sultan HB X mempersilakan aktivitas ekonomi, terutama sektor wisata, kembali beroperasi. Protokol kesehatan harus diterapkan, data setiap pengunjung juga harus dicatat.

Menurutnya dalam masa pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya ini, perekonomian harus tetap tumbuh. “Tidak ada pilihan. Biarpun nanti status tanggap darurat dicabut, belum tentu Corona hilang,” ujarnya, Kamis.

BACA JUGA: Soal Uji Coba Pembukaan Destinasi, Pengelola Wisata Gunungkidul Dapat Sinyal Hijau

Sultan telah berkomunikasi dengan para bupati yang membuka objek wisata seperti Parangtritis, Kaliurang, dan pantai di Gunungkidul. Ia mengingatkan bahwa pengunjung objek wisata tidak saja dari Jogja, tetapi luar DIY. Tanpa pendataan, akan sulit menelusuri (tracing) riwayat kontak apabila ada kasus positif Covid-19.

“Bisa saja saat berkunjung ke Kaliurang sehat, tapi pas pulang dan kebetulan bukan orang Jogja, dia positif [Covod-19] begitu diperiksa. Kita akan kesulitan [jika tak ada pencatatan secara ketat],” ujarnya.

BACA JUGA: Objek Wisata di Sleman Mulai Dibuka, Wisatawan Berdatangan

Ia mengapresiasi Pemerintah Kota Jogja yang telah menerapkan QR Code di Malioboro sehingga bisa merekam data pengunjung. Di tingkat provinsi, Pemda DIY juga tengah menyiapkan ID Digital dalam aplikasi Cared+ yang akan memasukkan data pengunjung di setiap lokasi keramaian dalam database.

Data ini akan mempermudah tracing. Tanpa itu kata dia, Covid-19 gelombang kedua bisa terjadi.