Kisah Siswa Baru Berburu Sinyal: Gusar & Jengkel Materi Tak Kunjung Terkirim

Adib Banu Prasteya ini saat mengikuti pembelajaran daring di rumahnya di Dusun Belik, Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Selasa (14/7/2020) siang. - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara.
17 Juli 2020 11:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, para siswa di Kabupaten Kulonprogo, baik tingkat SD maupun SMA sederajat masih melaksanakan proses belajar di rumah dengan sistem online. Bagi siswa baru, sistem ini menyebabkan mereka tidak mengenal sepenuhnya lingkungan sekolah. Selain itu juga menyulitkan proses pembelajaran siswa yang tinggal di daerah yang belum terjangkau sinyal seluler, salah satunya Banu, siswa baru di SMA N 1 Wates, Kulonprogo.

Siang itu Banu sempat dibuat gusar dan jengkel karena berkas materi yang diberikan gurunya sebagai tugas sekolah tak kunjung terkirim. Materi tentang pengenalan lingkungan sekolah (PLS) itu dikirim melalui aplikasi pihak ketiga yang sudah bekerjasama dengan sekolahnya. Namun karena sinyal internet di tempat tinggalnya buruk, butuh waktu lama hingga akhirnya berkas itu bisa terkirim.

BACA JUGA : Tak Ada Tatap Muka, MPLS Hari Pertama Masuk Sekolah

"Sinyalnya lemot banget dan mungkin server juga lagi down, tetapi Alhamdulillah sekarang udah terkirim," ujar Anak Baru Gede (ABG) bernama lengkap Adib Banu Prasteya ini saat ditemui Harianjogja.com di rumahnya di Dusun Belik, Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Selasa (14/7/2020) siang.

Kediaman Banu sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Wates. Jaraknya berkisar 6 km. Jika menggunakan kendaraan bermotor, waktu yang ditempuh kurang lebih 13 menit perjalanan. Lingkungan rumahnya juga tidak bisa dibilang pelosok karena dekat dengan jalan kabupaten yang kanan kirinya bertebaran toko. Dengan kata lain, remaja berusia 15 tahun ini tinggal di daerah pedesaan yang cukup ramai dan padat penduduk.

Namun, entah mengapa di tempat ini sulit sekali memperoleh sinyal internet yang baik. Padahal Banu membutuhkan itu untuk menunjang kegiatan belajar daring.

BACA JUGA : Tahun Ajaran Baru Dimulai dengan Online, Ini Kendalanya 

"Susah banget kalau urusan sinyal, saya udah gonta ganti tiga provider, tapi sama aja, tetep lemot, akibatnya buat ngirim tugas itu lamanya minta ampun," ungkap siswa yang baru saja diterima di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMA N) 1 Wates tersebut.

Banu sejatinya sudah akrab dengan sistem pembelajaran daring yang telah diberlakukan di penghunjung tahun ajaran 2019-2020 karena dampak pandemi Covid-19. Tepatnya sejak Maret kemarin. Ketika itu Banu masih duduk di kelas IX SMP N 1 Lendah, Kapanewon Lendah, Kulonprogo.

Hingga akhirnya lulus, dan diterima di SMA N 1 Wates, awal Juli, Banu sempat membayangkan di hari pertama sekolah bisa bertemu langsung dengan teman-teman barunya dan mengenal lingkungan sekolah lebih dalam. Namun apa daya, pembelajaran tatap muka yang mulanya sempat akan digelar pada tahun ajaran baru urung dilaksanakan dan pemerintah tetap melanjutkan pembelajaran online. Bagi Banu yang merupakan siswa baru, sistem pembelajaran online menyulitkannya dalam adaptasi sekolah.

BACA JUGA : Tahun Ajaran Baru: MPLS di Gunungkidul Boleh Digelar 

"Jujur sebagai siswa baru sistem ini tidak ada untungnya, karena kita kan harusnya bisa mengenal dulu lingkungan sekolah secara langsung dan ketemu temen-temen baru. Nah kalau ini, saya gak kenal sekolah saya, cuma bisa lihat gambarannya saja dan tidak mendalami lebih dalam. Kalau ditanya siapa temen [kelas] saya, ya taunya cuma di grup WhatsApp, kalau seumpama ketemu di jalan karena belum pernah lihat langsung mungkin ya gak nyapa, karena memang gak tahu," ujarnya.

Menurutnya sistem ini kurang efektif. Siswa kesulitan menyerap pelajaran karena tidak secara langsung diajarkan oleh guru. "Kalau boleh pilih saya pengennya offline aja, pelajaran tatap muka, lebih cepet keserap ilmunya dan jujur nih, saya rindu banget sekolah," ucapnya.