90 Persen Covid-19 di Kota Jogja Kasus Impor

Ilustrasi. - Freepik
04 Agustus 2020 18:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah Daerah Yogyakarta mendukung langkah Pemda DIY yang memutuskan untuk memperpanjang status masa tanggap darurat penanganan Covid-19 sampai dengan akhir Agustus. Pasalnya, kasus konfirmasi positif Covid-19 di wilayah kota Yogyakarta juga masih ditemukan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan jika langkah Pemda DIY yang memutuskan untuk memperpanjang status masa tanggap darurat penanganan Covid-19 merupakan hal yang memungkinkan untuk dilakukan.

"Selama masih ada temuan kasus artinya penyebaran masih ada dan tentu saja keadaan belum sepenuhnya aman. Sehingga perpanjangan itu masih penting dilakukan. Maka, langkah paling memungkinkan sekarang memang perpanjangan status tanggap darurat," ujar Heroe, beberapa waktu lalu.

Adapun, kasus konfirmasi positif Covid-19 di wilayah kota Jogja sendiri memiliki riwayat perjalanan ke luar wilayah kota Jogja. Angkanya sendiri mencapai 90 persen dari kasus positif Covid-19 di wilayah kota Jogja.

"Sehingga, perpanjangan itu (masa tanggap darurat) masih penting untuk dilakukan. Kami juga melihat sebanyak 90% kasus di Yogya adalah riwayat perjalanan luar kota," sambung Heroe.

Kondisi tanggap darurat dinilai Heroe merupakan upaya yang mampu menimbulkan efek cukup efektif untuk mengontrol mobilitas masyarakat di masa pandemi Covid-19. Pembatasan perjalanan menjadi penting untuk dilakukan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 secepat mungkin.

Lebih lanjut, saat ini perguruan tinggi juga sedang memasuki ajaran tahun baru. Potensi kedatangan mahasiswa dari luar DIY juga harus diantisipasi betul.

"Kedatangan mahasiswa baru dari luar kota patut diwaspadai. Sehingga penguatan protokol pencegahan penularan Covid-19 harus diperketat, termasuk juga pengawasan di lapangan," sambung Heroe.

Respons cepat dari eksekutif dalam hal ini pemerintah kota Yogyakarta dalam menghadapi situasi juga terus didorong oleh jajarannya di Pemkot. Penanganan kepada pasien dan upaya tracing kasus positif Covid-19 yang akurat menjadi kunci dalam menekan jumlah kasus agar tidak semakin banyak.

"Respons cepat itu termasuk penanganan kesehatan, penanganan persoalan sosial ekonominya dan penanganan anggarannya sangat penting di masa sekarang," imbuh Heroe.

Heroe juga tidak ingin menutup mata terkait dengan potensi kedatangan wisata yang masuk ke wilayah kota Jogja seiring dengan masuknya adaptasi kebiasaan baru (AKB).

"Tamu dari luar kota sudah berdatangan, baik mahasiswa maupun wisatawan, jadi mesti mendapat atensi yang lebih besar," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardoyo mengaku telah berkoordinasi dengan kepala dinas OPD terkait dimana ditemukan seorang pegawainya yang dinyatakan positif Covid-19. Upaya tersebut dilakukan agar diberikannya izin kepada enam rekan pasien untuk melakukan karantina diri.

"Tujuannya untuk meminimalisir potensi persebaran Covid-19. Kami juga telah meminta adanya upaya penyemprotan disinfektan di ruang kerja pasien Covid-19. Juga melacak mobilisasi selama di luar kantor. Pasien positif Covid-19 tersebut memang tenaga lapangan," sambung Mardoyo.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta ada 5 orang luar UPT yang sempat kontak erat dengan pasien positif Covid-19 selama sekitar 15 menit. Diantaranya, Warga Tegalrejo, Bausasran, Kotagede dan Giwangan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan masing-masing wilayah untuk dilakukannya tracing.

Diakuinya, pasien positif Covid-19 tersebut memang pernah melakukan rapid diagnostic test (RDT) pada 15 Juli dan hasilnya non reaktif. Namun, memasuki 21 Juli sosok tersebut sudah merasakan gejala sakit. Diantaranya pusing, sesak nafas, dan pilek. Alhasil, uji swab mandiri 25 Juli dilakukan oleh yang bersangkutan dan hasilnya positif Covid-19.

"Hasil dari tes sendiri keluar pada 28 Juli. Pasien positif Covid-19 langsung jalani isolasi di rumah sakit rujukan. Dari hasil tracing ini, yang bersangkutan tidak pernah keluar kota, terutama daerah merah seperti Surabaya dan Jakarta," imbuhnya.