Warga Pertanyakan Nasib Usaha yang Tertutup Jalan Tol Jogja-Solo

Petugas sedang membuat peta pengukuran area terdampak pembangunan jalan tol di Kadirejo II Purwomartani, Selasa (18/8 - 2020)./Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
18 Agustus 2020 21:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Warga terdampak jalan tol Jogja-Solo masih menunggu kepastian lahan yang terkena patok. Warga juga akan menunggu kejelasan nasib lahan dan bangunan yang tidak terkena area pembangunan.

Salah seorang warga terdampak, Okto Gunawan, warga Kadirojo II, Purwomartani, Kalasan mengatakan tetap menunggu kepastian lahan yang masuk dalam area pembangunan jalan tol. Pasalnya dalam beberapa kali sosialisasi dan konsultasi publik yang diikuti sebagian lahan miliknya masuk dalam trase jalan tol Jogja-Solo.

"Saya punya lahan sekitar 222 meter persegi. Kalau dari gambar lahan saya dari pojok ke pojok sana terkena jalan tol, jadi agak miring. Yang hilang sekitar 130 meter persegi. Sisa lahanya berbentuk segitiga," katanya saat ditemui Harianjogja.com, Selasa (18/8/2020).

BACA JUGA: Bocah Difabel di Kulonprogo Dipukul hingga Luka & Diikat di Kandang Kambing oleh Ortunya

Jika hanya sebagian lahan yang digunakan, sementara sisanya tidak masuk area terdampak maka ia akan mengajukan untuk masuk area terdampak. Pasalnya, jika lahan miliknya hanya tersisa kurang dari 100 meter persegi dan berbentuk segitiga maka lahan tersebut tidak bisa dimanfaatkan.

Wawan juga mempertanyakan nasib bisnis penyewaan tiga paviliun yang pasti mati karena akses masuk ke paviliun tersebut tertutup area jalan tol. Pasalnya halaman depan usaha penginapannya yang dirintis sejak tahun lalu masuk area terdampak pembangunan. "Ini juga nanti akan saya minta penjelasannya. Bagaimana nasib bisnis penyewaan paviliun saya ini? Apakah juga ada ganti ruginya? Ini jelas akan saya perjuangkan," katanya.

Hingga kini, lanjut Wawan, warga memang belum ada kesempatan terkait besaran ganti rugi yang diharapkan. Alasannya, masalah tersebut memang belum ada pembahasan. Meskipun begitu, lanjut Wawan, harga jual tanah di pasaran saat ini rata-rata Rp3 juta per meter tergantung lokasinya.

"Nah saya juga belum tahu apakah penentuan harga nanti menggunakan NJOP atau ZNT [zona nilai tanah] atau ada dasar yang lain. Kalau ZNT nya antara Rp2 juta hingga Rp5 juta per meter. Ya harapannya tidak menggunakan NJOP karena NJOP di sini kecil sekali," ujar Wawan.

Yang jelas, kata Wawan, warga Kadirojo tidak ada yang menolak terkait rencana pembangunan jalan tol tersebut. Mereka mendukung sepenuhnya program pemerintah.