Dropping Mulai Dilakukan, Gunungkidul Siapkan 2.000 Tangki Air

Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan jatah air bersih. - Harian Jogja/Desi Suryanto
19 Agustus 2020 07:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menyebut kapanewon yang terdampak kekeringan cukup parah pada musim kemarau tahun ini terjadi di Kapanewon Girisubo. Sejumlah sumber air dan bak penampungan air milik warga di kapanewon itu sudah mengering.

"Memang beberapa kapanewon di Gunungkidul pada musim kemarau ini sudah menunjukkan tanda-tanda krisis air, terutama di Girisubo yang berdasarkan laporan sudah banyak sumber air yang kering. Bak penampungan air milik warga juga sudah kosong," kata Kepala BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/8/2020).

BACA JUGA : Ribuan Warga di Gunungkidul Mulai Kekurangan Air, Ini

Pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di kapanewon tersebut. Droping air juga dilakukan di kapanewon lain yang telah mengajukan permohonan bantuan air bersih, yakni Rongkop, Ponjong, Ngawen, Panggang, Purwosari, Semanu dan Tanjungsari. Pelaksanaan droping air itu sudah berlangsung sejak awal musim kemarau, tepatnya pada akhir Juli 2020 lalu.

"Kami sudah siapkan anggaran dari APBD kabupaten sebesar Rp740 juta. Itu untuk keperluan operasional truk pengangkut tangki air dan sebagainya. Dari anggaran ini juga dialokasikan untuk 2.000 tangki air bersih guna keperluan droping air," ujar Edy.

Edy menjelaskan, selain delapan kapanewon yang disebutkan di atas, ada beberapa kapanewon lain yang sebenarnya telah melaporkan potensi kekeringan tapi belum mengajukan bantuan, sehingga pihaknya belum melakukan droping air. Kapanewon itu meliputi Tepus, Paliyan dan Saptosari.

"Laporan soal potensi kekeringan sudah masuk, tapi belum ada pengajuan untuk bantuan air bersih," terang Edy.

BACA JUGA : Atasi Kekeringan, BPBD Gunungkidul Siapkan Dana Rp900

Dikatakan Edy, kekeringan sebagai dampak musim kemarau tahun ini sebenarnya belum separah tahun lalu. Ia bisa menyebut demikian karena berdasarkan data total jiwa terdampak pada tahun ini lebih sedikit dibandingkan 2019. Hingga pertengahan Agustus 2020, tercatat ada 94.000 jiwa terdampak kekeringan di Gunungkidul. Sedangkan pada pertengahan Agustus tahun lalu, jumlah jiwa yang terdampak menembus 100.000 jiwa.

"Dan untuk saat ini status kita belum darurat [kekeringan], tapi masih siaga. Kalau nantinya anggaran kita sudah habis, sementara wilayah kekeringan masih mengajukan bantuan, baru dinaikkan ke status darurat," ujarnya.

Krisis Air

Panewu Girisubo, Agus Riyanto mengatakan warga masyarakat Girisubo sudah mulai merasakan krisis air sebagai dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Pihaknya mencatat warga terdampak kekeringan di Girisubo sebanyak 11.675 jiwa atau 3.311 KK.

Lebih lanjut ia menjelaskan hampir semua kalurahan di Girisubo telah mengajukan permintaan droping air bersih kepada BPBD Gunungkidul dan mulai akhir Juli kemarin melalui dana kapanewon sudah mulai melaksanakan droping air bersih.

"Ya memang benar Girisubo sudah mengalami krisis air, untuk sementara pemenuhan air bersih melalui bantuan droping baik dari BPBD maupun dana kapanewon," ujarnya.