73.363 BPJS Dinonaktifkan, Gunungkidul Aktivasi Ulang 32.845 Peserta
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Sutiyem, mengambil air dari lubang yang dibuat di Telaga Banteng, Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, beberapa waktu lalu. /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sedikitnya 101.181 warga di Gunungkidul mulai terdampak kekeringan. Diperkirakan jumlah itu bakal terus bertambah saat memasuki puncak musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan jajarannya sudah berkoordinasi dengan seluruh kapanewon untuk pendataan daerah rawan kekeringan saat kemarau. Hasilnya, saat ini ada 17.436 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan. “Kalau jumlah jiwanya ada sekitar 101.181 orang,” kata Edy saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2020).
Menurut dia, jumlah ini bakal terus bertambah, terutama saat masuk puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada akhir Agustus hingga September. Selain itu, hingga saat ini baru enam kapanewon yang melaporkan data pemetaan wilayah yang terdampak kekeringan. “Kami masih menunggu laporan dari kapanewon lainnya,” ungkapnya.
Kapanewon yang sudah melaporkan data kekeringan yakni Girisubo, Tepus, Rongkop, Saptosari, Paliyan dan Saptosari. “Nanti saat memasuki puncak kemarau kapanewon lain seperti Patuk, Gedangsari, Ngawen hingga Semin juga melapor dan meminta bantuan air bersih,” katanya.
Disinggung mengenai penyaluran bantuan air bersih, Edy mengakui Kapanewon Semanu sudah meminta bantuan. Namun untuk pelaksanaan masih berkoordinasi dengan tim dari kapanewon. Hal ini dilakukan untuk pembagian wilayah dropping karena di kapanewon juga memiliki anggaran sehingga bantuan tidak tumpang tindih. “Kami harus berkoordinasi. Setelah semuanya jelas, bantuan bisa disalurkan,” katanya.
Meski memiliki anggaran dropping, mulai tahun ini kapanewon tidak bisa menyalurkan bantuan secara langsung dan harus menggandeng pihak ketiga. “Untuk BPBD tetap sama. Alokasi untuk dropping BPBD mendapatkan anggaran sekitar Rp700 juta,” ujarnya.
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya, mengatakan wilayahnya merupakan daerah langganan kekeringan saat kemarau. Untuk pelaksanaan dropping jajarannya mengalokasikan anggaran Rp90 juta. Meski demikian, untuk penyaluran kapanewon harus menggandeng pihak ketiga. “Sudah ada aturannya,” kata Arif.
Menurut dia, dengan peraturan tersebut maka tangki yang dimiliki kecamatan sudah tidak digunakan lagi. “Truk tangki masih bisa digunakan, tetapi tidak ada alokasi anggaran untuk operasional sehingga tidak dijalankan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Sebanyak 4.278 anak di Sleman tercatat tidak sekolah. Pemkab meluncurkan Gandheng ATS berbasis EWS untuk mendeteksi risiko putus sekolah.
Brussels memperpanjang status waspada kekeringan level kuning akibat cadangan air tanah terus menurun dan cuaca kering yang masih berlanjut.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Agustus 2026 lengkap di SIMMADE, MPP, Simenor Ngabuburit, dan Satpas 1450 beserta biaya perpanjangan SIM.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Agustus 2026 lengkap, mulai SIMMADE, SIMPITU, SIM Station, hingga Saturday Night Service beserta syaratnya.
SIM Keliling dan Samsat Keliling malam di SSA Bantul Agustus 2026 melayani perpanjangan SIM serta pembayaran PKB tahunan. Cek jadwal dan syaratnya.