Rumah Sakit Berbasis Syariah Dibangun di Gunungkidul

Ilustrasi - Pixabay
20 Agustus 2020 14:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembangunan rumah sakit berbasis syariah pertama di Gunungkidul, yakni Rumah Sakit Islam (RSI) Gunungkidul, telah dimulai pada Kamis (20/8/2020). Rumah sakit yang bakal memberikan pelayanan berdasarkan tata cara islami baik dari sisi manajemen maupun kesehatan itu ditargetkan bisa segera beroperasi pada akhir 2021 mendatang.

Pembangunan rumah sakit yang menempati lahan seluas 1,1 hektare di Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, itu diawali dengan doa bersama dilanjutkan peletakan batu pertama oleh Bupati Gunungkidul, Badingah, beserta perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gunungkidul dan Yayasan Umat Islam Gunungkidul (Yaumig), selaku inisiator RSI. Investor rumah sakit, yakni Sagiran, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kami harap kehadiran RSI Gunungkidul bisa turut membantu upaya pemkab dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” kata Badingah seusai peletakan batu pertama pembangunan RSI Gunungkidul, Kamis siang.

BACA JUGA: Hotel Berbintang Dibangun di Playen Gunungkidul, Warga Berharap Kecipratan Rezeki

Penasihat Yaumig, Harun Alrasyid, mengatakan pembangunan RSI bertujuan  untuk memberikan kemudahan dalam pelayanan kesehatan bagi warga masyarakat Gunungkidul, khususnya yang umat Islam tinggal di wilayah Karangmojo dan sekitarnya.

Konsep pelayanan di RSI, kata Harun, berbeda dengan rumah sakit umum lain. Di sini, pihaknya mengusung pelayanan berbasis syar'i, atau sesuai dengan tata cara agama Islam. "Ini betul-betul kita konsep secara syar'i, baik dari sisi manajemen maupun pelayanan kesehatannya," ujar Harun.

Sagiran, investor pembangunan RSI Gunungkidul, mengatakan konsep syar'i yang diusung oleh sebuah rumah sakit bukanlah hal baru. Selain rumah sakit, sudah ada bidang-bidang lain yang mengusung konsep serupa, seperti bank, hotel, restoran hingga pariwisata. Hal ini sudah diatur oleh MUI melalui Dewan Syariah Nasional.

"MUI melalui Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan Fatwa no 104/2016 tentang menjalankan rumah sakit berbasis syariah. Sehingga ini [syariah] tak perlu jadi kata yang asing karena sebelumnya sudah ada yang namanya bank syariah, hotel syariah, restoran syariah dan wisata syariah," ujarnya.

Sugiran menjelaskan RS syariah adalah rumah sakit yang seluruh aktivitasnya berdasarkan pada maqashid al syariah, yaitu hifzh ad-din, hifzh an-nafs, hifzh al-aql, hifzh al-nasl, hifh al-mal. Transaksi, pelayanan, obat-obatan dan makan, dan pengelolaan dana harus sesuai dengan prinsip syariah

BACA JUGA: BOB Gelar Lomba Desain Logo Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

Konsep ini dicetuskan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI), tepatnya pada 2015. Kala itu MUKISI bertandang ke MUI untuk membahas rencana tersebut, yang hasilnya pada 2017 DSN MUI melalui divisi fatwa mengeluarkan fatwa Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa rumah sakit yang mendapatkan sertifikat syariah antara lain, RS Islam Sultan Agung Semarang, RS Nurhidayah Bantul, RS Sari Asih Ar rahmah Tangerang, RS Sari Asih Ciledug, RS Sari Asih Sa ngiang, RS Amal Sehat Wonogiri, RSI PDHI, dan RS Muhammadiyah Lamongan.

Hingga 2019, ada sedikitnya 62 rumah sakit yang sedang proses mendapatkan sertifikat ini. Sementara itu, ada 18 rumah sakit yang sudah mendapatkan sertifikat syariah secara resmi.

Terkait dengan pembangunan RSI Gunungkidul, Sagiran optimistis rumah sakit ini bisa selesai dibangun dan mulai beroperasi akhir 2021 mendatang. Untuk tahap pertama pihaknya akan menyediakan 50 kamar pasien, sehingga rumah sakit ini masuk tipe D. Kedepan lanjutnya, akan ditambah lagi menjadi sekitar 100 hingga 200 kamar, agar naik level ke tipe C.

"Kita lihat situasi dan kondisi, kalau memungkinkan bisa diperbanyak menjadi 100 sampai 200 kamar. Hal ini sangat memungkinkan karena lahan rumah sakit ini mencapai 1,1 hektare," ujarnya.