Warga Lakukan Mubeng Beteng Mandiri Demi Lestarikan Tradisi

Beberapa orang nampak khidmat memanjatkan doa-doa setelah melakoni Mubeng Beteng secara mandiri, Rabu (19/8/2020) malam. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.
21 Agustus 2020 09:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB. Seorang kakek tampak celingak celinguk memperhatikan sekitarnya. Berjalan di atas trotoar mengarah ke Keben Kraton Yogyakarta, pria tadi seolah tak mendapatkan apa yang dia cari. Lantas memutar arah.

Pada peringatan malam satu Suro, seharusnya para abdi dalem Kraton yang diringi ribuan warga melakukan tradisi Mubeng Beteng. Tanpa berbicara atau tapa bisu, warga akan berbondong-bondong mengitari Beteng Kraton. Namun tahun ini tradisi itu ditiadakan pagebluk virus yang melanda menjadi dasar tradisi itu ditiadakan.

Cukup sulit membedakan mana warga yang sedang melakukan Mubeng Beteng atau wisatawan yang sedang berlibur. Keben Kraton yang menjadi titik awal keberangkatan maupun pemberhentian terakhir daripada ritual ini pun sangat lengang nyaris tanpa orang.

BACA JUGA : Malam 1 Sura di Jogja Tanpa Tapa Bisu Mubeng Beteng

Kakek yang bernama Mbah Jumiyo itu ternyata sedang mencari aktivitas Mubeng Beteng. Sudah dikelilinginya kompleks Kraton dari seputaran Alun-alun Utara hingga Keben Kraton tapi Jumiyo tidak menemukan gelagat rombongan Mubeng Beteng. "Biasanya dari ringin sana, tapi saya ke sana ditutup, saya ke belakang sini juga ditutup," ungkapnya saat berbincang dengan Harianjogja.com.

Sambil menata napasnya dan menurunkan maskernya ke bagian dagu, Jumiyo bercerita bahwa ia telah mengikuti tradisi Mubeng Beteng beberapa kali. Namun ia sama sekali tidak mendengar kalau tahun ini tradisi Mubeng Beteng ditiadakan. "Enggak tahu, biasanya ya ada di sana," cerita Jumiyo sambil menunjuk arah Alun-alun Utara.

Namun Jumiyo tak mengikuti warga lainnya yang tetap melakukan tradisi Mubeng Beteng secara mandiri. Dengan alas an lebih ringan jika dilakukan secara bersama-sama. "Nek enek koncone kan iso mboten keroso kesele, nek niki ijen mubeng kesel," ujarnya.

BACA JUGA : GKR Mangkubumi Pimpin Lampah Budaya Mubeng Beteng

Keluarganya dan tidak ada yang mau mengikuti tradisi ini. Sementara kawan-kawannya yang biasanya ikut menemani pun tidak bisa mendampingi Jumiyo tahun ini. "Mboten gelem, biasane kula paling ming tanggane, tanggane pun padha dipanggil [meninggal] mpun mboten enten wong loro, biasane [Mubeng Beteng] kasih kula wong telu," ujarnya dengan bahasa Jawa.

Jumiyo yang dari Kadipiro, Kasihan, Bantul berjalan kaki ke Kraton Jogja tampak tidak terlalu capek. Hanya mengenakan kemeja lengan pendek tanpa jaket, diusianya 63 tahun dia teguh berencana ikuti Mubeng Kraton di cuaca yang terbilang dingin saat itu.

Biasanya setelah sampai di titik akhir Mubeng Beteng, Jumiyo memanjatkan doa-doa. "Panyuwunan kesehatan, keselametan, nyuwun pangapura," ungkapnya.

Meski sudah jauh-jauh menempuh perjalanan jalan kaki, tidak nampak raut kekecewaan mendalam dari Jumiyo. Dia hanya mengikuti saja keputusan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X. "Nderek mawon, manut," ujarnya.

Banyak warga lain yang berdatangan ke area Kraton Jogja, ada rombongan yang terdiri dari empat orang berhenti tepat di pintu gerbang utara Alun-alun Utara. Mereka segera mengambil sikap sila tanpa ada kata-kata yang terlontar. Tepat yang segaris lurus dengan pohon beringin dan Kraton Jogja, rombongan tadi sepintas seperti sedang bermunajat.

Sesekali tangan mereka diangkat ke atas dengan posisi lengan lurus sejajar dengan telapak tangan kanan dan kiri saling nengatup sempurna. Suasana pun hening dan khidmat di tengah lalu lalang wisatawan Jogja.

Seorang kakek yang menjadi pemimpin rombongan tersebut, Yuda Piranti mengakui baru saja tengah melakukan tradisi Mubeng Beteng. Dia bersama ketiga saudaranya melakukan tradisi Mubeng Beteng. Pria berusia 75 tahun tersebut sudah menjalankan tradisi Mubeng Beteng sejak tahun 1960an.

Alasan Yuda selalu mengikuti tradisi Mubeng Beteng karena merupakan ajaran kejawen. Arah Mubeng Beteng memang ke kiri [kiwo] atau berlawanan dengan arah jarum jam memiliki makna tersendiri. "Kejawen kan kepercayaan, kepecayaan diimbangi dengan keagamaan, yaitu dengan lampah prihatin, lampah Mubeng Beteng, karena ngiwo itu ngiwoke apa-apa yang tidak [baik] apalagi musik kaya gini ada pagebluk," terangnya.

BACA JUGA : RITUAL 1 SURA : Tapa Bisu Mubeng Beteng Kehilangan 

Yuda punya ejawantah tersendiri terhadap keputusan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang meniadakan Mubeng Beteng. "Sebetulnya ini kan memberi nasehat, secara tidak langsung Mubeng boleh, tapi tidak bergerombol," ujarnya.

Menurutnya secara perseorangan banyak warga yang Mubeng Beteng. "Itu tinggal pribadinya sendiri-sendiri," imbuhnya.

Meski melakoni berbagai tahap Mubeng Beteng, Yuda dan ketiga saudaranya tetap menggunakan masker kain saat berjalan mengitari beteng. Hal yang barangkali tidak dilakukan warga pada Mubeng Beteng tahun-tahun sebelumnya.

"[Masker] itu untuk jaga, pertama untuk jaga pribadi keselamatan, kedua juga membawa empat itu [anggota rombongan]," tuturnya. Menurutnya hal itu sebagai bentuk mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

BACA JUGA : Melestarikan Tradisi Mubeng Beteng

Dalam Mubeng Beteng tahun ini Yuda meminta pitutur dan pitulungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yuda tidak mempersoalkan warga yang memutuskan tidak menjalani Mubeng Beteng. Menurutnya hal itu menjadi hak pribadi masing-masing. "Tidak mubeng tapi duduk berdoa ya sama saja, mubeng itu kan sebagai ngolah rasa," kata\nya.

Meski ditiadakan, Yuda menilai kebijakan Sri Sultan Hamengkubuwono X bijaksana agar menghindari kerumunan. Dia mengatakan bila terjadi kerumunan akan menyusahkan aparat dan tenaga medis. "Karena masyarakat luas dari mana-mana datang, apalagi ini sentralnya pertemuan," katanya.