YIA Dikritik Senasib dengan Bandara Kertajati, Ini Jawaban Menhub Budi Karya

Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin (6/5/2019). - ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
01 September 2020 15:57 WIB Rinaldi Mohammad Azka Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Banyaknya kritikan mengenai kemungkinan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) mengalami nasib seperti Bandara Kertajati di Jawa Barat, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya buka suara. Sepinya bandara di Kulonprogo ini lebih karena pandemi Covid-19.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan sepinya Bandara Kulonprogo, Yogyakarta lebih karena masalah pandemi Covid-19 yang membuat orang tidak bepergian. Dia optimistis pasca pandemi bandara ini akan ramai.

BACA JUGA : Dari Jogja ke Kulonprogo Lama, Konektivitas YIA Disorot DPR 

"Ini masalah pandemi saja, angkutan pendukungnya, kereta api setiap 30 menit ada, jarak tempuh 30 menit ke pusat kota, per 30 menit, jarak tempuhnya 30 menit, DAMRI ada, ya dualah, tidak mungkin pakai pesawat lain," ujarnya, Senin (31/8/2020).

Dia juga menampik jika YIA akan bersinggungan dengan pengguna penerbangan Bandara Internasional Adi Sumarmo, Solo. Dalihnya, arus penumpang dan pesawat yang terus naik baik di YIA maupun Solo membuat keduanya saling melengkapi.

"Trafik naik terus dan saling melengkapi, Solo dan Yogyakarta itu saling melengkapi. Orang Klaten itu senangnya terbang di Solo," urainya.

Adapun arus penumpang di Bandara YIA terus mengalami peningkatan di tengah pandemi Covid-19, pada Mei 2020, penumpang yang lalu lalang hanya 3.709 penumpang, pada Juni 2020 naik menjadi 48.806 penumpang. Setelah itu berturut-turut kenaikan penumpang terus terjadi, pada Juli 2020 sebanyak 86.546 penumpang dan pada 1-24 Agustus 2020 sebanyak 93.860 penumpang.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI : Rini Tak Mau YIA Senasib Kertajati 

Sejalan dengan arus penumpang, arus pesawat juga bertambah seiring waktu, pada Mei 2020 sebanyak 127 pergerakan, sementara, Juni 2020 naik menjadi 727 pergerakan. Adapun Juli 2020 menjadi 1.045 pergerakan, sementara pada 1-24 Agustus 2020 mencapai 960 pergerakan.

YIA dibangun dengan investasi dana sebesar Rp11,3 triliun, di mana Rp7,1 triliun digunakan untuk pembangunan fisik dan Rp4,2 triliun untuk pembebasan lahan.

Dengan luas terminal sebesar 219.000 meter persegi dan total luas area bandara mencapai 587 hektar, menjadikan YIA sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia dengan kapasitas saat ini dapat menampung hingga 20 juta penumpang per tahun atau 11 kali lebih besar dari Bandara Adisutjipto yang hanya dapat menampung 1,6 juta penumpang per tahun. Pada kapasitas ultimate, YIA nantinya dapat menampung hingga 24 juta orang per tahun.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia