Kulonprogo Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, Warga Diminta Tidak Panik

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
01 September 2020 08:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Pemerintah Kabupaten Kulonprogo telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Penetapan itu ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Bupati Kulonprogo no 281/A/2020 tentang Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Kekeringan di Kulonprogo pada 31 Juli kemarin. Status siaga berlaku mulai 1 Agustus sampai 30 November mendatang dan dapat diperpanjang sesuai kondisi di lapangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi mengatakan penetapan status siaga ini dilandasi oleh perubahan iklim dan cuaca di Kulonprogo yang mengakibatkan pergeseran musim kemarau sehingga terjadi kekeringan di sejumlah wilayah.

Baca juga: Bendung Kamijoro Bakal Ditutup, Puluhan Hektare Lahan di Bantul Terancam

"Kulonprogo masuk siaga darurat kekeringan karena berdasarkan analisis Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Agustus-September merupakan puncak kemarau, dan kini sebagian wilayah juga ada penurunan debit air," kata Ariadi kepada awak media, Senin (31/8/2020).

Oleh karena itu lanjutnya, dalam rangka mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas, perlu dilakukan upaya penanganan yang bersifat cepat, tepat dan terpadu sesuai standar dan prosedur yang berlaku, salah satunya adalah dengan menetapkan status siaga.

Dengan penetapan status siaga, maka pembiayaan untuk penanganan bencana kekeringan bisa dilakukan menggunakan APBD 2020 dan sumber lain. "Untuk sekarang kami sudah siapkan anggaran sebesar Rp80 juta, kalau ternyata nanti masih kurang akan diambilkan dari Biaya Tak Terduga (BTT)," jelasnya.

Baca juga: Wisatawan Jogja Diwajibkan Miliki Jogja Pass

Anggaran itu digunakan untuk kegiatan droping air bersih ke wilayah yang mengajukan bantuan. Sampai saat ini, BPBD mencatat sudah ada lima dusun di Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang dan enam dusun di Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo yang telah mengajukan bantuan droping air bersih. Adapun total warga terdampak kekeringan di wilayah tersebut mencapai lebih dari 1.300 jiwa.

Ariadi mengatakan meski Kulonprogo ditetapkan status siaga darurat kekeringan, masyarakat jangan panik. Sebab menurutnya, sumber air di sejumlah wilayah meski mengalami penurunan debit air, jumlahnya masih cukup setidaknya sampai November mendatang. Debit air di waduk Sermo, Kokap yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian juga dipastikan masih aman.

Di samping itu beberapa wilayah yang sebelumnya kerap dilanda krisis air seperti sebagian Pengasih, kini juga sudah terpasang Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes) dan jaringan pipa PDAM.

Namun apabila nanti dampak kemarau tahun ini kian parah, bantuan droping air bersih tetap dioptimalkan. Bantuan juga datang dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulonprogo yang telah menyiapkan 250 tangki air bersih dari APBD DIY.

"Kalau memang sudah parah, nanti statusnya naik menjadi tanggap darurat kekeringan. Tapi untuk saat ini, kami masih berstatus siaga mengingat sumber air tergolong masih cukup untuk masyarakat," ujarnya.