Kemarau Kali Ini, Prambanan Bebas Bencana Kekeringan

Direktur PUDAM Tirta Sembada Dwi Nurwata. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
14 September 2020 05:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kepanewon Prambanan, Sleman, diklaim sudah terbebas dari bencana kekeringan. Pemenuhan kebutuhan air bersih selama musim kemarau di wilayah ini dilakukan dengan sistem penyediaan air minum masyarakat oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM).

Direktur PUDAM Tirta Sembada Dwi Nurwata mengatakan masalah kekeringan atau kekurangan air bersih yang terjadi bertahun-tahun lamanya di wilayah Prambanan saat ini sudah teratasi setelah Pemerintah Kabupatan (Pemkab) Sleman mengeluarkan kebijakan baru. "Masyarakat Prambanan saat ini sudah tidak perlu melakukan droping air. Droping air dengan tangki sudah tidak ada lagi di sana," katanya, Minggu (13/9/2020).

Hal itu terjadi setelah uji coba penyaluran air besih yang dilakukan PUDAM Tirta Sembada sejak Juli lalu. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Prambanan, jawatannya menggunakan sumber air dari Pendekan, Berbah. Sumber air yang dibangun oleh DPUP KP Sleman tersebut dengan kapasitas produksi air 8-10 liter per detik.

BACA JUGA: Joko Widodo Masuk Tim Pemenangan Gibran, Jadi Koordinator Parkir

Berdasarkan uji coba yang dilakukan, ratusan warga baik di Wukirharjo, Gayamharjo maupun Sumberharjo selama kemarau sudah mendapatkan air bersih melalui instalasi jaringan air bersih PUDAM. "Kami sudah melalukan inventarisasi secara detail di mana jaringan air bersih kami sudah mengalir ke 982 rumah warga," katanya.

Dari jumlah tersebut, hanya 65 rumah warga yang belum bisa maksimal teraliri air bersih. Ini dikarenakan jaringan pipanya belum sesuai dengan standar PUDAM. Rencanya, awal Oktober mendatang PUDAM akan mengganti instalasi pipa jaringan air bersih agar 65 rumah warga tersebut bisa teraliri air.

"Selama uji coba kami mampu menyurkan sekitar 25.000 kubik itu setara dengan 5000 tanki air," katanya.

BACA JUGA: Jembatan Dzikrul Ghofilin Pajangan Diresmikan, Infrastruktur Perdesaan Masih Dibutuhkan

Dwi mengatakan terobosan yang dilakukan oleh Pemkab Sleman tersebut dinilai jauh lebih murah jika dibandingkan kegiatan droping air yang sebelumnya dilakukan selama musim kemarau. Pasalnya biaya satu tangki berisi 5 kubik umumnya Rp150.000. Adapun tarif PDUM untuk satu kubik hanya Rp3.250 per meter kubiknya.

"Jadi jauh lebih murah. Tapi yang penting saat ini masalah kekeringan bertahun-tahun sudah teratasi pada tahun ini," katanya.

BACA JUGA: Oktober, DIY Bakal Jadi Tuan Rumah Pacuan Kuda Piala Presiden

Saat ini, jawatannya tinggal melakukan edukasi kepada masyarakat agar menggunakan air besih untuk hal-hal yang prioritas saja. Sebab setelah uji coba dilakukan, warga penerima manfaat akan menjadi pelanggan PUDAM sehingga ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi.

"Sosialisasi akan kami laksanakan pada Rabu [16/9/2020]," katanya.

Adapun Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan selama musim kemarau tahun ini belum ada laporan dari pemangku kebijakan di wilayah warga Prambanan kekurangan air besih. "Alhamdulillah belum ada laporan kekurangan air besih di Prambanan," katanya.

Sebelumnya, Sekda Sleman Hardo Kiswoyo mengatakan pemkab tahun ini berupaya menyelesaikan masalah kekeringan di Prambanan. Caranya dengan merevitalisasi sistem penyediaan air minum melalui PDAM Sleman. "Ini kami lakukan agar semua masyarakat mendapatkan haknya untuk pelayanan dasar terutama air minum," katanya.