Sudah 2 Bulan, Puluhan KK di Selopamioro Kesulitan Air Bersih

Warga di Dusun Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul berusaha menyedot selang air untuk mengalirkan air dari sumber mata air di wilayah tersebut ke rumah mereka. - Harian Jogja/Jumali.
16 September 2020 14:27 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, IMOGIRI--Sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama dua bulan terakhir. Sampai kini belum ada droping air dari Pemkab Bantul.

Salah satu warga, Siti Marsilah, 31, mengatakan, sebanyak 50 KK terpaksa harus bergiliran sebanyak tiga kali sehari untuk mengambil air dari tuk padukan dengan menggunakan selang air yang dialirkan ke rumah warga. Di mana, setiap kali mengambil air, hanya 20 KK yang diperbolehkan mengalirkan air ke rumah mereka.

BACA JUGA : Kemarau Kali Ini, Prambanan Bebas Bencana Kekeringan 

“Jadi digilir, pagi, siang dan malam. Maksimal 20 orang yang boleh mengambil setiap kali dapat giliran mengalirkan air,” katanya ditemui di lokasi pengambilan air.

Siti mengungkapkan, setiap kali mengambil air, dirinya harus menyedot selang sepanjang 150 meter yang teraliri air dari tuk tersebut. Padahal sekali mengambil air, hanya terkumpul sebanyak 2 ember air.

“Kadang juga bisa dapat lima ember, kalau pas dapat dari air cukup banyak. Padahal, air ini tidak hanya untuk mandi, tetapi juga untuk masak dan kebutuhan yang lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut Siti memaparkan, jika kondisi kekeringan yang dialami di dusunnya kali ini bukan hal baru. Sejak saban tahun pasti terjadi.

“Tetapi untuk kali ini memang kami memang belum mendapatkan droping air. Kami berharap pemerintah memerhatikan kami dan memberikan bantuan droping air,” katanya.

Camat Imogiri Sri Kayatun yang dikonfirmasi mengaku masih berkoordinasi dengan perangkat desa setempat terkait kemungkinan pemberian droping air. “Sedang kami koordinasikan dengan pamong desa setempat. Karena sejauh ini belum ada laporan terkait hal tersebut,” katanya.

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan, sampai kini pihaknya belum mendapatkan permintaan dari warga terkait dengan droping air.

BACA JUGA : Kekeringan Makin Meluas, 8 Kecamatan di Gunungkidul

Meski demikian, penyiapan armada berupa mobil tangki tetap dipersiapkannya, jika sewaktu-waktu warga di Bantul membutuhkan droping air.

“Kami sudah siapkan dua mobil dengan kapasitas 5.000 liter. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, jika nantinya ada permintaan droping air dari warga,” katanya.

Dwi mengungkapkan, sejauh ini anggaran penanggulangan bencana kekeringan juga aman. Sebab, tidak terkena refocusing APBD 2020. Adapun jumlah anggaran yang bersumber dari  belanja tidak terduga (BTT) itu adalah senilai Rp50 juta.

Selain itu BPBD juga telah melakukan koordinasi dengan forum pengurangan risiko bencana (FPRB) melakukan pendataan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Dari hasil pemetaan, bberapa daerah yang berpotensial kekeringan adalah Imogiri, Piyungan, Dlingo, Pleret, Pundong, sebagian Pandak, sebagian Pajangan.

Dwi berpesan kepada warga yang akan mengajukan droping air, agar telah menyiapkan tempat penampungan air. Sehingga, petugas tidak harus melakukan droping air dari rumah ke rumah. Selain itu, juga dibutuhkan data jumlah warga yang membutuhkan air. “Agar perkiraan dari kami juga tepat,” terangnya.