Kreatif, Warga di Bantul Ubah Bunga Telang Jadi Teh dan Sabun

Warga sedang menata bunga telang untuk dijemur dan dijadikan bahan membuat teh, sabun, dan pewarna makanan di Dusun Sirat, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Rabu (30/9/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
01 Oktober 2020 10:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Bunga telang bagi kebanyakan orang mungkin hanya sebatas tanaman penghias halaman rumah. Namun bagi Danang Ari Krisnandi, 30, tumbuhan yang merambat itu justeru bisa dimanfaatkan dengan berbagai kreasi yang bernilai ekonomi.

Ide berbisnis bunga telang itu ia dapatkan dari internet setelah dirinya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di salah satu perusahaan percetakan akibat terdampak Coronavirus Disease atau Covid-19. “Kami mulai coba-coba pada Maret kemudian produksi besar-besaran di bulan April,” kata Danang, saat ditemui di rumahnya di Dusun Sirat RT03, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Rabu (30/9/2020).

Baca juga: Anggaran Kemensos Meningkat Setelah Pandemi Covid-19, Bagaimana Pengawasannya?

Sebelum mulai bisnis, awalnya ia memang sempat diminta menyetorkan bunga telang kering ke pengepul dengan harga Rp150.000 per kilogram bunga telang kering. Setelah diberhentikan dari pekerjaan dan waktunya di rumah lebih banyak, ia mencari tahu manfaat bunga telang melalui internet.

Akhirnya ia memiliki ide untuk membuat berbagai macam produk dari bahan bunga telang, salah satunya teh bunga telang. Bunga berwarna biru itu ternyata bisa dibuat teh dalam kondisi bunga basah maupun kering. Ia membuat teh dalam bentuk tubruk maupun celup yang sudah dikirim ke berbagai daerah melalui pemasaran secara daring, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Banten, dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan DIY.

Baca juga: UMKM di Bantul Dapat Bantuan Rp2,4 Juta, Budi: Untuk Produksi, Bukan Konsumsi

“Sebenarnya ada permintaan juga dari warga Banglades, Cuma terkendala dalam proses perizinan yang masih kami urus,” kata Danang. Tidak hanya sampai pada teh, Danang juga mulai mengkreasikan bunga telang menjadi sabun mandi dan sabun cuci tangan, sampo, hingga pewarna makanan.

Proyeksinya juga cukup menjanjikan. Banyak konsumen yang memesan sabun, terutama sabun pencuci tangan atau hand soap. Banyaknya produk yang dibuat semakin membutuhkan banyak bahan baku bunga telang. Danang bersama istrinya Wiwit Nur Arista tidak hanya nenamam telang di halaman rumah, namun di area persawahan yang bisa menghasilkan lima kilogram bunga telang kering dalam sehari.

Ia juga mulai melakukan pembibitan dan akan diserahkan kepada warga sekitar untuk menenamnya dan hasil bunga petiknya akan diambil kembali. Hal itu untuk memenuhi permintaan pasar sekaligus memberdayakan warga sekitar rumahnya. Penanaman sendiri tanaman bunga telang karena harga per kilogram kering cukup mahal bisa mencapai Rp500.000.

Sementara dalam membuat produknya di rumah produksi Ash-Shikhah ia dibantu enam orang yang merupakan bagian dari keluarga dan warga sekitar. Wiwit Nur Arista mengklaim banyak meanfaat dari bunga telang, di antaranya meningkatkan imun tubuh, mengurangi kolestrol dan gula darah, dapat mengobati keluhan mata.

Manfaat lainnya dari teh bunga telang ningkatkan imun ubuh, nguragi kolestrol dan gula darah, keluhan mata dan pewarna rambut bisa. Sementara manfaat sabun dan pencuci muka dari bunga telang dapat mengilangkan gatal dan mengobati jerawat, “Kalau ada sel kulit mati, bunga telang juga bisa mencerahkan,” kata Wiwit.

Berbagai produk dari bunga telang yang dijual mulai harga Rp12.000-25.000. Sementara produk teh dibandrol dari harga Rp5.000-27.000. Soal omzet, Wiwit mengaku belum memikirkannya. Ia masih fokus pada pengembangan dan ekonomi keluarga selama tiga bulan terakhir juga aman setelah suaminya berhenti kerja dari percetakan.